Follow detikFinance
Selasa, 24 Apr 2018 12:32 WIB

Dolar AS Bisa Rp 14.000, Pemerintah dan BI Jangan Diam Saja

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) membuat nilai tukar rupiah terus terperosok. Bahkan kondisi ini terus berlanjut dan tidak menutup kemungkinan dolar AS bisa tembus Rp 14.000.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tentunya harus mengambil tindakan untuk mencegah hal itu terjadi. Ada beberapa hal yang diusulkannya.

"BI tidak bisa salahkan faktor global saja, karena sebagian besar yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah fundamental ekonomi. Maka tugas Pemerintah juga untuk memperkuat kinerja ekonomi domestik," tuturnya kepada detikFinance, Selasa (24/4/2018).


Pertama, kata Bhima, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat salah satunya dengan menjaga kestabilan harga baik listrik, BBM maupun harga pangan jelang Ramadan, sehingga konsumsi rumah tangga bisa berperan 56% terhadap PDB.

"Bansos jangan terlambat disalurkan. Efektifkan stimulus ke sektor riil. Waktu yang tepat untuk evaluasi semua paket kebijakan," tambahnya.

Kedua dari sisi moneter BI harus kreatif dalam menggunakan instrumen selain cadangan devisa. Di Asia Tenggara misalnya rasio cadangan devisa (cadev) terhadap PDB Indonesia salah satu yang terendah yakni 14%.

"Filipina saja sudah 28%, dan Thailand 58%. Cadev menentukan kekuatan moneter suatu negara jadi tidak mungkin terus dikorbankan. Jika diperlukan untuk jaga stabilitas rupiah maka BI 7 days repo pada Mei sangat mungkin dinaikkan 25 bps. Di sisi yang lain penurunan bunga kredit bisa dilakukan dengan efisiensi perbankan dan pengendalian inflasi," tambah Bhima.


Ketiga, para pengusaha terutama yang memiliki utang luar negeri (ULN) harus melakukan lindung nilai atau hedging. BI harus memperketat pengawasan kewajiban hedging.

"Keempat dalam kondisi mendesak BI bisa terbitkan aturan mengenai capital control untuk tahan DHE (devisa hasil ekspor) di bank dalam negeri sehingga pembelian rupiah meningkat. Thailand berhasil kendalikan bath karena punya instrumen capital control DHE wajib disimpan di bank dalam negeri minimum enam bulan. Kita belum punya," tutupnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed