Follow detikFinance
Minggu, 06 Mei 2018 15:54 WIB

Saham Produsen Rokok Berguguran, Ini Biang Keladinya

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Dok. Bea Cukai Foto: Dok. Bea Cukai
Jakarta - Jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini menjadi penyebab anjloknya saham-saham produsen rokok. Kejatuhan harga saham emiten rokok beriringan dengan momentum anjloknya IHSG.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menilai ada dua hal yang membuat saham-saham rokok bertumbangan. Pertama secara industri diyakini masih terkena dampak dari pola perilaku masyarakat yang mengurangi konsumsinya.

Kedua, terimbas dari anjloknya pasar. Sepanjang tahun ini IHSG sudah menyentuh level tertingginya pada 19 Februari 2018 di level 6.689. Namun kemarin IHSG parkir di level 5.792 atau sudah turun 13,41% dari posisi tertingginya.


Momentum jatuhnya IHSG hampir sama dengan pola anjloknya saham-saham rokok seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

"Kalau lihat dari tren market yang kita lihat ada imbasnya dari market secara keseluruhan. Bagi saham HMSP maupun GGRM kan saham big cap, jadi kalau pasar negatif mereka terkena imbasnya," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Minggu (6/5/2018).

Jika dilihat dari laporan keuangan emiten rokok sebenarnya tidak telalu buruk. Seperti misalnya HMSP laba bersihnya di 2017 turun tipis 0,71% dari Rp 12,76 triliun di 2016 menjadi Rp 12,67 triliun.

Sementara GGRM bahkan mampu mencatatkan kenaikan laba bersih di 2017 sebesar 16,07% dari Rp 6,67 triliun menjadi Rp 7,75 triliun. Namun WIIM memang mengalami penurunan laba besih cukup besar 61,81% dari Rp 106,15 miliar di 2016 menjadi Rp 40,53 miliar.

Rata-rata dari emiten rokok tersebut memang mengalami kenaikan di pos beban. Namun, kata Reza itu bukan menjadi sentimen negatif jika perusahaan mampu mencetak kenaikan laba meski beban melonjak.

"Tapi pelaku pasar ada yang merespon positif ada juga yang wait and see karena membandingkan dengan pertumbuhan laba di tahun-tahun sebelumnya," tambahnya.

Sebelumnya saham HMSP mulai tren penurunan pada 24 Januari 2018. Pada saat itu saham HMSP turun 4,55% dari Rp 5.500 ke Rp 5.250.

Sejak saat itu saham HMSP terus turun hingga posisi kemarin berada di level Rp 3.280. Itu artinya saham HMSP sudah anjlok 40,36%.

Saham GGRM juga mulai jatuh dari tanggal yang sama. Pada 24 Januari 2018 saham GGRM turun tipis 0,09 dari Rp 85.300 ke Rp 85.275.


Sejak saat itu saham GGRM bergerak fluktuatif cenderung menurun. Kemarin saham GGRM sudah berada di level Rp 67.200. Jika dihitung saham GGRM sudah jatuh 21,21% dari posisi tertingginya.

Sementara WIIM bernasib sedikit berbeda. Saham ini sebenarnya juga cukup berfluktuatif.

Jika dilihat dari awal tahun saham WIIM mencapai posisi tertingginya pada 26 Februari 2018 yang ditutup di level Rp 296. Namun kemarin saham WIIM sudah berada di level Rp 254 atau sudah turun 14,18%. (fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed