Follow detikFinance
Senin, 07 Mei 2018 13:08 WIB

Perjalanan IHSG: Awal Tahun Rekor, Sekarang Ambruk

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dibuka menguat. Namun sebelumnya IHSG sudah lama berada dijalur penurunan hingga ke posisi terendah di tahun lalu.

Jika dilihat dari awal tahun IHSG menyentuh level tetingginya pada 19 Februari 2018 di level 6.689. Namun pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, IHSG parkir di level 5.792 atau sudah turun 13,41% dari posisi tertingginya.

Sejak saat itu IHSG terus mengalami penurunan. Sinyal awal tren pelemahan IHSG terjadi sejak adanya penguatan mata uang dolar Amerika Serika (AS) terhadap Rupiah. Hal itu disebabkan oleh adanya rencananya bank sentral AS, The Fed yang ingin menaikkan suku bunganya.

Seperti pada 26 Februari 2018, IHSG mulai turun 65,673 poin (0,98%) ke 6.554,673. Saat itu dolar AS mulai menuju level Rp 13.700.

Setelah dolar tembus level Rp 13.800, IHSG pun semakin terpuruk. Investor asing mulai menarik dananya dari pasar modal.

Seperti pada perdagangan 5 Maret 2018, investor asing tercatat melakukan aksi jual sebesar Rp 1,4 triliun. Saat itu IHSG ditutup turun 31,723 poin (0,48%) ke 6.550,593.

Dua hari setelahnya, pada 7 Maret 2018 IHSG berkurang 131,844 poin atau anjlok 2,03% ke 6.368,267. Pelemahan pun terus berlanjut.

Sejak saat itu IHSG sering jatuh lebih dari 1%. Dana asing pun terus mengalir keluar. Bahkan pada 23 Maret 2018, IHSG melemah 145,736 poin atau turun 2,33% ke 6.108,338.

Pada 26 April 2016 bahkan IHSG turun 170,652 poin atau anjlok 2,81% ke 5.909,198. Saat itu banyak saham-saham berguguran.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sampai menggelar konfrensi pers. Kala itu Direktur Utama BEI Tito Sulistio menjelaskan bahwa masih ada serpihan good news terhadap pasar modal Indonesia.

Tito memandang, jatuhnya IHSG disebabkan ketidakjelasan kondisi perekonomian global. Sebab dia yakin kondisi dalam negeri masih dalam kondisi positif.

"Jadi karena ketidakjelasan, siapa yang bisa jamin?" tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (26/4/2018).


Tito menjelaskan, rumus yang dia pegang untuk melihat kondisi pasar adalah ekonomi, emiten dan persepsi. Untuk ekonomi dia yakin dalam kondisi terjaga.

"Ekonomi masih stabil kok. Mungkin ada ketakutan inflasi naik, tapi wajar saja kalau mau Lebaran inflasi pasti naik sedikit," tuturnya.

Sementara emiten, data BEI menunjukkan perusahaan tercatat rata-rata kinerjanya positif. Pada 2017 total laba bersih dari seluruh emiten naik 26,3% dari Rp 70 triliun menjadi Rp 88,41 triliun.

"Hal yang paling penting berapa banyak saham yang diperdagangkan dan berapa yang likuid. Ternyata saham yang diperdagangkan 85% dari saham listed selalu diperdagangkan. Frekuensi 380 ribu, hari ini saja 430 ribu frekuensi. Kita masih frekuensi paling bagus," tambahnya.

Namun setelah itu IHSG terus melanjutkan pelemahannya. Hingga akhirnya kini IHSG berada di zona 5.800an.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed