Strategi Bisnis Bank Muamalat Sehatkan Permodalan

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 11 Mei 2018 16:40 WIB
Foto: Danang Sugianto-detikFinance
Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesi Tbk tengah menjadi pusat perhatian. Bank syariah tertua di Indonesia ini disinyalir tengah bermasalah dari sisi permodalan hingga harus mencari calon investor baru.

Proses pencarian investor baru masih berjalan. Dari sekian banyak calon investor yang diisukan, perusahaan mengklaim sudah mengerucut menjadi 2 calon investor pilihan.

Keputusan siapa pemegang saham pengendali baru Bank Muamalat akan diumumkan pada semester I tahun ini. Hal itu agar proses penyuntikan modal melalui penerbitan saham baru (rights issue) bisa dilakukan pada kuartal III-2018.

Jika modal sudah tercukupi, lalu strategi bisnis apa yang disiapkan Bank Muamalat agar bisa sembuh dari penyakitnya dan terus berkembang?

Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia Achmad Kusna Permana mengatakan bahwa dirinya akan mengembangkan bank tersebut sesuai dengan jati diri perusahaan. Pria yang baru resmi menjabat pada Februari 2018 kemarin itu akan mengembangkan Bank Muamalat di bisnis Islami.

"Kalau saya kembangkan perusahaan saya harus pastikan perusahaan punya value position yang berbeda. Bank Muamalat punya value itu karana sebagai bank punya khas. Tidak ada satu pun bank syariah punya kekhasan seperti Bank Mualamat," ujarnya kepada Detik Network di Hotel Four Season, Jakarta, seperti ditulis Jumat (11/5/2018).


Menurut Permana, sebagai bank syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat seakan memiliki hubungan yang erat dengan umat muslim di tanah air. Salah satunya Bank Muamalat masih menjadi bank paling dipercaya untuk pendaftaran ibadah haji dan umroh.

"Anda bisa bayangkan dulu waktu saya di Bank Permata saya agresif banget cari untuk haji, ujungnya setahun maksimum dapat 20 ribu jamaah. Tapi kalau Bank Muamalat belum agresif, setahun yang daftar 100 ribu orang, berarti Rp 2,5 triliun uang masuk," terangnya.

"Islamic segment itu kalau bicara bank syariah ya Bank Muamalat, kalau mau naik haji ya Muamalat. Ini cerita benar waktu di Cirebon saya kunjungan ke kantor Kementerian Agama, ada layanan satu atap di situ ada 4 bank. Waktu saya datang ada 10 orang antre di Bank Muamalat, saya tanya ngapain? dia bilang saya mau daftar haji tapi ini Bank Muamalat belum buka. Padahal di situ ada 3 bank lain," tambahnya.

Permana memberikan contoh lainnya, belum lama ini dia bertemu dengan salah satu Bank BUMN, yang meminta pembiayaan untuk koperasi karyawannya. Ternyata anggota koperasi karyawan bank BUMN tersebut yang meminta pembiayaannya dari Bank Muamalat karena pengelolaannya secara syariah.

Oleh karena itu pihaknya berencana untuk mengembangkan pengelolaan dana haji dan umroh. Sumber dana tersebut dipercaya bisa mendorong penghimpunan dana murah perusahaan.



"Tapi tidak hanya haji dan umroh, ada halal food, kemudian islamic university, banyak urusan di situ. Balik lagi kita harus bangun core bisnis sesuai kekhasan bisnis kita," kata Permana.

Menurut Permana, Bank Muamalat memang tidak akan sanggup jika bergerak dalam bidang yang sama dengan bank-bank besar. Sementara dia percaya Bank Muamalat memiliki kekuatan untuk bermain di bidang yang berhubungan dengan muslim.

"Seperti main bola di Lapangan Banteng dari Subuh sampai Isya semua orang main di situ. Kalau Muamalat main di situ babak belur, enggak kebagian waktu bermain, lapangannya juga sudah tidak bagus. Saya mau mundur sedikit ke Karawang, rumputnya masih bagus, orang Jakarta juga malas main di situ," terangnya. (zlf/zlf)