Surat Utang Negara Online Sudah Dipesan Rp 800 Miliar

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 21 Mei 2018 22:15 WIB
Ilustrasi pembelian surat utang/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat surat utang negara (SBN) ritel seri SBR003 sudah dipesan hingga Rp 800 miliar dari target Rp 1 triliun.

"So far bagus yah dari sisi order tadi di atas sekitar Rp 800 miliar," kata Direktur Surat Utang Negara Loto Srinaita Ginting di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (21/5/2018).

Lotto menyebut, angka pembelian yang di atas Rp 800 miliar ini tercatat pada siang hari. Di mana, proses order pun sudah dilakukan dengan cara online. Mengenai investor yang membelinya, pihak DJPPR masih dalam pencatatan.


"So far kita masih lihat dari sisi wilayahnya ada dari Indonesia tengah, timur, barat di luar DKI juga ada. DKI memang selalu besar, tapi dari sisi partisipasi wilayah semuanya sudah ada," tambah dia.

Pemesanan SBR003 yang mencapai Rp 800 miliar ini tercatat dari pertama diluncurkan pada 14 Mei dan dibuka sampai 25 Mei 2018. Minimum pemesanan untuk surat utang pemerintah ini sebesar Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 1 juta. Kemudian maksimum pemesanan Rp 3 miliar. Bunga atau kupon yang diberikan 6,8% per tahun dengan jangka waktu 2 tahun.

Pembayaran kupon akan dilakukan pada tanggal 20 setiap bulannya. Pembayaran kupon pertama kali dilakukan pada 20 Juni 2018. Untuk masyarakat yang berminat untuk berinvestasi di SBR003 ini dapat menghubungi 9 mitra distribusi yang telah ditetapkan melayani pemesanan pembelian secara langsung melalui sistem elektronik bank.


Para penjual itu antara lain: PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Bareksa Portal Investasi, PT Star Mercato Capitale (tanamduit) dan PT Investree Radhika Jaya.

Lotto mengungkapkan, pihak Kementerian Keuangan opitimis SBR003 yang dipesan lewat online ini bisa tembus Rp 1 triliun atau sesuai target. Bahkan, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan jumlah penerbitan.

"Berdasarkan masukan midis (mitra distribusi), karena platform baru dan butuh proses edukasi makanya target Rp 1 triliun, dengan perkembangan hari ini sudah Rp 800 miliar, kemungkinan target Rp 1 triliun bisa terlampaui," tutup dia. (hns/hns)