Follow detikFinance
Rabu, 11 Jul 2018 18:50 WIB

Kunjungan Wisman hingga Ekspor ke Negara Baru Bisa Dongrak Rupiah

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Pool/Blue Bird Foto: Pool/Blue Bird
Jakarta - Terdapat sejumlah cara agar rupiah bisa menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, salah satunya dengan mendorong sektor pariwisata yang mendatangkan wisatawan asing.

Faisal mengatakan, cara yang ditempuh yakni membuka penerbangan langsung ke destinasi wisata. Dengan begitu, maka devisa akan masuk ke dalam negeri.

"Tourism dengan buka direct flight, misalnya sekarang Manado, Sam Ratulangi itu destinasi top 12. Kalau nggak salah, itu dari China masuk," kata dia dalam diskusi 'Stabilitas Kurs Ganggu Pertumbuhan Ekonomi?' di Jakarta, Rabu (11/7/2018).


Berkaitan dengan itu, sebaiknya promosi liburan ke luar negeri lebih baik dikurangi.

"Kedua jangan promosi liburan ke luar negeri dulu kalau saya lihat, travel fair hampir tiap bulan ada," sambungnya.

Cara lain, lanjut Faisal, mengurangi penggunaan valuta asing (valas) dalam negeri. Sayangnya, perusahaan dalam negeri justru bertransaksi dengan dolar AS.

"Coba bayangkan PLN membeli gas Pertamina dalam dolar (AS). Saya pikir oke harganya saja, tapi transaksinya dalam dolar (AS)," ujarnya.


Faisal juga menuturkan, perlunya gerakan yang mendorong penggunaan rupiah. Dia menambahkan, saat ini justru para pejabat menyimpan hartanya dalam bentuk dolar AS.

"Para pejabat tinggi elit pakai dolar (AS), banyak sekali kalau kita lihat dari laporan kekayaan pejabat-pejabat itu. Contohnya saya inget Pak SBY lah ya, dulu tapi sekarang mudah-mudahan nggak. Waktu jadi Presiden 64% kekayaannya dalam dolar (AS), Menteri Agama sekarang US$ 100.000 lebih. Buat apa sih? Ini kan nggak percaya komitmen pemerintahnya sendiri, jangan yang disuruh berjuang BI terus," jelasnya.

Tak hanya itu, supaya rupiah menguat perlunya mendorong ekspor. Caranya, dengan ekspansi ke negara-negara non tradisional.

"Saya inget jaman Pak Soedradjad Djiwandono jadi Menteri Perdagangan tahun 1980-an makan dikerahkanlah seluruh energi bangsa ini untuk menggerakkan ekspor, itu harga minyak anjlok. Pertama kita ekspansi perdagangan ke negara non tradisional," ujarnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed