Follow detikFinance
Jumat, 20 Jul 2018 16:41 WIB

Dolar AS Makin Perkasa, Kadin: Bahaya untuk Industri Olahan

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Hasan Alhabshy Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) masih terus menunjukkan grafik penguatan hingga ke level Rp 14.515. Mengenai hal tersebut, Ketua Koordinator Gas Industri Kadin Ahmad Wijaya menjelaskan kondisi ini sangat bergaya bagi industri olahan.

"Kalau kita lihat ini proses valuta asing yang terus melambung itu berbahaya sekali untuk industri olahan. Industri kita itu impor bahan baku banyak sekali di dalam industri kita. Mulai dari lapisan industri hulu, industri intermediate dan hilir banget," jelas dia kepada wartawan di Coffee Shopping Gran Melia, Jumat (20/7/2018).

Bila ditarik dari rentang awal tahun 2018, laju rupiah terpantau dalam tren pelemahan yang cukup dalam. Awal tahun 2018, dolar AS masih berada di rentang Rp 13.300-13.400.


Dolar AS sempat mencatat level terendah di akhir Februari 2018 pada posisi Rp 13.292.

Ia menjelaskan salah satu cara agar rupiah menguat yaitu dengan cara menggenjot ekspor. Namun kata Ahmad, hal tersebut belum bisa dilakukan karena semua bahan baku olahan Indoensia masih 70% didatangkan dari luar negeri alias impor.

"Apa yang mau diekspor. Kalau bahan baku kita aja semua masih impor. Intinya kita harus benahi dulu industri hulu ini," kata dia.


Hingga saat ini kata Ahmad industri hulu di Indonesia masih saja mengurusi printilan di hilir contohnya seperti distribusi gas LPG. Padahal masalah hulu seperti eksplorasi wilayah baru itu belum dibenahi.

"Misalnya kita mengimpor solar luar bias Padahal di Bontang ada LNG, di Sumatera ada sumber gas alam. Seharusnya itu bisa diolah," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed