Follow detikFinance
Senin, 30 Jul 2018 18:54 WIB

Rupiah dan Harga Avtur, Tantangan Garuda Cetak Laba Tahun Ini

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Dok. Kementerian BUMN Foto: Dok. Kementerian BUMN
Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menargetkan bisa mencetak laba di akhir tahun, setelah beberapa tahun sebelumnya terus mengalami kerugian. Namun target tersebut sepertinya akan mendapatkan tantangan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury menjelaskan tahun ini perseroan menargetkan bisa mengantongi laba bersih sebesar US$ 8-10 juta. Namun target itu ditinjau kembali melihat adanya depresiasi nilai tukar rupiah dan naiknya harga bahan bakar avtur.

"Target kita tahun ini break event, tapi kondisi rupiah dan fuel ada pengaruhnya juga. Jadi kita kembali dalam proses review," tuturnya di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (30/7/2018).


Pada semester I tahun ini biaya untuk bahan bakar avtur Garuda Indonesia meningkat 12% dari US$ 571,1 juta di semester I-2017 menjadi US$ 639,7 juta. Sementara biaya bahan bakar menyumbang 35% dari total biaya operasional Garuda Indonesia yang enam bulan pertama ini mencapai US$ 2,1 miliar.

"Sehingga ekspansi biaya kita terpengaruh sekitar 3,5-4%. Apakah fuel akan terus meningkat ini juga harus terus dimonitor," tambahnya.

Sementara untuk pelemahan kurs, ternyata 65% dari pendapatan Garuda Indonesia dalam bentuk rupiah, sehingga fluktuasi nilai tukar cukup mempengaruhi pendapatan perseroan.

"Ya tentunya dari biaya kita yang cukup tinggi dan ini memang kita lakukan bagaimana kita bisa menurunkan biaya-biaya kita," tambahnya.


Perlu diketahui, rugi bersih Garuda Indonesia di semester I-2018 sebesar US$ 116,857 juta atau setara Rp 1,67 triliun (kurs Rp 14.300). Kerugian itu turun 58% dari rugi bersih periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 283,8 juta.

Penurunan rugi bersih itu disebabkan juga adanya kenaikan pendapatan operasional sebesar 5,9% menjadi sekitar US$ 1,99 miliar. Angka itu setara dengan Rp 28,58 triliun.

Garuda Indonesia juga berhasil menekan biaya operasional yang naik hanya sebesar 0,3% menjadi US$ 2,1 miliar. Meskipun di semester I tahun ini ada tantangan dari kenaikan biaya bahan bakar avtur sebesar 12% dan adanya depresiasi nilai tukar.


Saksikan juga video 'Singapore Airlines Terbaik di Dunia, Garuda Indonesia Nomor 9':


(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed