Dolar AS Ngamuk ke Rp 14.600, Sri Mulyani Waspada

Dolar AS Ngamuk ke Rp 14.600, Sri Mulyani Waspada

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 13 Agu 2018 12:07 WIB
Dolar AS Ngamuk ke Rp 14.600, Sri Mulyani Waspada
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku akan terus mewaspadai perkembangan ekonomi dunia salah satunya dampak yang berasal dari Turki.

Dia menjelaskan, perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,27% menandakan masih dalam kondisi baik, apalagi dengan tingkat inflasi yang rendah. Namun, agar stabilitas nilai rupiah tidak terganggu dirinya akan mewaspadai perkembangan segala bentuk neraca, baik APBN, BUMN, maupun swasta.

"Ekonomi akan terus dijaga dengan melihat waspada baik neraca yang dimiliki pemerintah yaitu neraca APBN, neraca BUMN dan juga dari sisi kebijakan moneter, inflasi rendah mandatnya BI menjaga stabilitas rupiah kita. Neraca perbankan juga diawasi oleh OJK maupun lembaga keuangan. Kita akan terus waspada dan terus melakukan exercise bagaimana kalau kondisi global menimbulkan dinamika yang jauh lebih tinggi lagi, dan itulah yang harus kita siapkan," kata Sri Mulyani di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Senin (13/8/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Pemerintah, kata Sri Mulyani akan lebih fokus pada perbaikan neraca transaksi berjalan atau CAD. Pasalnya, posisi CAD saat ini masih defisit 3%. Meski masih lebih rendah dibandingkan tahun 2015, pemerintah akan tetap hati-hati.

"Kita perlu tetap hati-hati karena lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda dengan 2015, 2015 waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga belum dilakukan baru diungkapkan, kalau sekarang suku bunga sudah naik secara global dan quantitative easing sudah mulai dikurangi, dan inilah yang menyebabkan tekanan lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia," jelas dia.

"CAD menjadi konsen oleh karena itu pemerintah akan melakukan tindakan yang bisa meningkatkan ekspor dan mengurangi impor," jelas dia.

Adapun, upaya yang dilakukan pemerintah dalam menekan impor dan meningkatkan ekspor melalui dua cara, yakni expenditure reducing dan expenditure switching.

Dia menjelaskan, jika expenditure reducing memiliki pengaruh terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi jika diterapkan oleh pemerintah. Sedangkan expenditure switching dengan meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri dibandingkan luar negeri.

"Penggunaan B20 untuk mengurangi impor minyak karena itu komponen impor cukup besar dan barang modal terutama di infrastruktur kelistrikan," jelas dia.



Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan bahwa pemerintah dalam jangka pendek akan menekan impor bahan baku.

"Artinya kita bisa tetap mempertahankan dan menjaga momentum apabila yang disebut switching itu mempengaruhi expenditure kita dari yang tadinya barang impor menjadi barang dalam negeri bisa dilakukan cepat. Sementara itu kita tetap menjaga agar risiko tereskalasi karena faktor dari luar," tutup dia.


Saksikan juga video ' Pelemahan Rupiah di Mata Jokowi ':

[Gambas:Video 20detik]

(hek/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads