Follow detikFinance
Rabu, 15 Agu 2018 13:04 WIB

Berserah Diri Kepada Allah, Erdogan Dianggap Tak Rasional

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis Foto: Kiagoos Auliansyah/Infografis
FOKUS BERITA Krisis Ekonomi Turki
Jakarta - Perseteruan antara Turki dan Amerika Serikat (AS) membuat mata uang lira anjlok cukup dalam. Bahkan mata uang Turki itu telah anjlok hingga 66% sejak awal tahun ini.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian krisis mata uang yang dialami Turki salah satu penyebabnya lantaran blunder kebijakan yang diambil oleh pemerintah Turki. Selama beberapa bulan Turki enggan menaikkan suku bunganya padahal inflasi selalu dua digit dan mata uang mereka terus melemah.

"Turki memaksakan rezim suku bunga rendah karena mereka masih ingin mengundang investasi asing untuk ditanam di negeri mereka, padahal hal ini sulit terjadi mengingat pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan oleh AS. Jadi, krisis Lira ini adalah buah dari blunder kebijakan ekonomi," turangnya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/8/2018).



Kondisi itu diperparah dengan perseteruan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump. Permintaan Trump agar melepaskan salah satu pendeta asal AS yang ditahan karena tudingan spionase ditolak.

Menanggapi hal itu Trump menggandakan tarif impor baja dan aluminium dari Turki. Melalui akun Twitternya, pada Jumat pekan lalu Trump mengumumkan bahwa tarif impor aluminium akan meningkat menjadi 20% dan tarif impor baja akan dinaikkan menjadi 50%.

Melihat kondisi mata uangnya semakin parah, Erdogan justru mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dia menyebut bahwa suku bunga adalah induk dari segala kejahatan dan menantang AS bahwa mereka juga memiliki Allah.

"Dalam menjustifikasi argumennya dan juga menarik simpati pendukungnya, Erdogan menggunakan dalih agama. Dia mengeluarkan dua pernyataan yang sangat kontroversial dan membuat sentimen negatif di pasar," kata Dzulfian.



Menurutnya kedua pernyataan itu menciptakan sentimen negatif di mata investor. Sebab secara tidak langsung menunjukkan bahwa krisis mata uang di Turki masih akan terus berlanjut karena tidak ada itikad baik dari pemerintah untuk memitigasi krisis ini.

"Selain itu, kedua pernyataan ini juga menunjukkan betapa bahayanya jika kebijakan ekonomi tidak didasarkan pertimbangan yang matang, logis dan rasional," tambahnya.


Saksikan juga video ' Ditekan Secara Ekonomi, Erdogan Serukan Perjuangan Nasional ':

[Gambas:Video 20detik]

(das/dna)
FOKUS BERITA Krisis Ekonomi Turki
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed