Penguatan dolar AS dirasakan dampaknya ke kenaikan barang-barang yang diimpor. Kenaikan tersebut nantinya memberi pengaruh ke inflasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan barang-barang yang diperkirakan mengalami kenaikan karena penguatan dolar AS, antara lain barang-barang elektronik dan bahan baku yang diimpor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Ini Biang Kerok Rupiah Keok Lawan Dolar AS |
Untuk itu, pemerintah berupaya mengevaluasi 900 komoditas impor. Namun di sisi lain, diperlukan upaya untuk menggenjot ekspor.
"Memperkuat ekspornya harusnya digenjot lebih tinggi," ujar Suhariyanto.
Mengenai dampaknya ke inflasi, ia tidak mengetahui dengan pasti. Dampak penguatan dolar AS ke inflasi bisa diketahui bulan depan.
"Nanti kita lihat dampaknya beberapa bulan tergantung implementasi dan mudah-mudahan semua berjalan mulus. Meskipun ada peringatan hati-hati bahwa pembatasan impor itu betul-betul barang yang bisa disubstitusi," kata Suhariyanto.
Mengenai target inflasi 3,5% plus minus 1%, ia mengatakan bahwa bisa tercapai di tahun ini. Besaran inflasi year on year (yoy) 3,20% atau masih di bawah target pemerintah.
"Saya yakin tercapai. Tadi kan bagus sekarang 3,20%," tutur Suhariyanto.
Meski demikian, gejolak harga pangan perlu diwaspadai pemerintah umumnya di akhir tahun.
"Biasanya tren yang ada barang naik untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru," kata Suhariyanto.
Saksikan juga video 'Penyebab Rupiah dan Mata Uang Dunia Melemah':












































