Follow detikFinance
Selasa, 04 Sep 2018 19:10 WIB

Rupiah Tertekan Dolar AS, Sri Mulyani: Karena Perfect Storm

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Lamhot Aritonang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS bahkan menyentuh level Rp 14.900.

Kondisi tersebut jauh di bawah asumsi pemerintah dalam APBN 2018 dan RAPBN 2019. Di APBN 2018, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp 13.400, sedangkan di RAPBN 2019 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp 13.700-Rp 14.000.


Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani penetapan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum dalam kondisi tekanan krisis ekonomi di beberapa negara saat ini. Usai penetapan, ternyata terjadi gejolak ekonomi global seperti perang dagang AS dan China hingga krisis ekonomi Turki dan Argentina.

Sri Mulyani menyebut gejolak ekonomi global tersebut sebagai perfect storm.


"Kurs saya sampaikan waktu kita bahas dengan dewan sampai bulan sebelum Juli kita ketok range waktu itu Rp 13.800-Rp 14.000, semua anggota dewan setuju kami terima, BI angguk (setuju)," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

"Buat kita ini merupakan kejutan. Maka sentimen itu ditambah global environment Argentina masuk IMF, Turki juga seperti itu, termasuk perfect storm," terang Sri Mulyani.


Sri Mulyani menambahkan pada saat penetapan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak ada yang memprediksi gejolak ekonomi global semakin besar. Awalnya antisipasi hanya perang dagang dan kenaikan suku bunga The Fed.

"Kita semua di sini bicara dengan data yang sama dan kita lihat kemarin pertama trigger Juli growth impor kita melonjak tinggi dan makannya muncul trade account kita negative, current account kita negative," tutur Sri Mulyani. (hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed