Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 05 Sep 2018 17:32 WIB

Dolar AS 'Mengamuk', Masyarakat Pilih Nabung Ketimbang Belanja

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Nilai tukar rupiah dibikin loyo oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah kondisi tersebut, masyarakat pilih menabung.

Lembaga riset global Nielsen menilai di tengah pelemahan rupiah, masyarakat akan lebih cenderung menyimpan uangnya (saving) daripada belanja (spending).

"Sudah pasti, kuartal II saja kelihatan masyarakat mulai hati-hati spending ditandai dengan saving naik, saving kita naik 7%. Jadi itu menunjukkan mereka lebih pilih nabung," kata Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin di kantornya, Jakarta, Rabu (5/9/2018).


Dia mengatakan penguatan dolar AS atas rupiah membuat konsumen berpikir ulang sebelum membelanjakan uangnya.

Mereka akan lebih memperhitungkan apakah harga-harga barang yang ingin mereka beli sudah mengalami kenaikan atau belum.

"Nah mereka berpikir, sekarang kan ini, harganya sudah baru apa belum baru, kalau nanti misalnya akan naik apa nggak harga harga itu, kapan naiknya, itu pasti mereka memperhitungkan itu," lanjutnya.


Namun dilihat dari sisi indeks keyakinan konsumen, dia menilai masih akan bagus walaupun dolar AS menguat terhadap rupiah. Hanya saja, dia belum bisa memprediksi apakah angkanya akan naik atau turun.

"Consumer confidence saya yakin masih, tapi angkanya berapa? saya lihat masyarakat Indonesia tipikalnya confidence karena religius. Biasanya kalau religius, tingkat confidence-nya tinggi. Saya yakin Indonesia masih confidence cuma pertanyaannya naik apa turun," tambahnya. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com