Beredar Broadcast soal Rupiah yang Bikin Panik, Ini Kata Kemenkeu

Hendra Kusuma, Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Rabu, 05 Sep 2018 17:47 WIB
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Masyarakat dihebohkan dengan adanya pesan viral di aplikasi berbagai pesan, WhatsApp. Pesan tersebut pada intinya memberikan saran apa yang harus dilakukan saat dolar Amerika Serikat (AS) tengah perkasa saat ini.

Ada 6 poin yang ditawarkan. Namun, alih-alih memberi ketenanangan, pesan viral tersebut justru membuat masyarakat cemas karena beberapa langkah yang ditawarkan cenderung membahayakan masyarakat yang mengaplikasikan langkah-langkah tersebut.

Misalnya saja pada poin 4 yang menyarankan masyarakat menyediakan uang tunai dalam jumlah besar untuk keperluan operasioanal selama 6 bulan.


Langkah ini tentu berbahaya, karena menyimpan uang tunai dalam jumlah besar, bisa membuat orang jadi sararan empuk para pelaku kejahatan.

Untuk itu, pihak Kementerian Keuangan meminta agar masyarakat tidak panik dan serta merta menuruti langkah-langkah yang ada dalam pesan tersebut. Apa lagi bila sumber pesannya tidak diketahui secara jelas.

"Kami tidak membahas informasi yang sumbernya tidak jelas," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti dihubungi detikFinance, Rabu (5/9/2018).

"Masyarakat tidak perlu panik. Pemerintah telah dan akan terus melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menstabilkan nilai tukar," tandas dia.


Adapun pesan viral yang beredar di jaringan berbagi pesan adalah sebagai beriku:

Waalaikumussalam wrwb, selamat pagi, dan selamat beraktivitas...

Akhirnya Dolar Amerika tembus Rp 15.000/dolar, barusan beberapa kantor sekuritas briefing kepada para ekonom nya, bahwa kita harus menjaga kondisi ekonomi perusahaan dan pribadi karena pengaruh Turki yg inflasinya s/d 20% dan perang dagang USA vs China, sekarang sudah mulai terkena dampaknya di Eropa, yang diprediksi nanti imbasnya akan sampai ke Indonesia

Yang harus dilakukan adalah:

1. minimalkan semua pengeluaran yg sifatnya konsumtif (cicilan elektronik, mobil, nyicil makan di restoran, dll)

2. karena saham lagi pada jeblok, jangan transaksi saham dulu.

3. Lebih baik simpan dalam bentuk emas dibanding cash (deposito, dll)

4. Usahakan punya cash utk operasional minimal 6 bln ke depan. Ada kemungkinan inflasi dan ekonomi thn 2008 terulang kembali. Kecuali yg gajinya usd malah bagus krn usd vs Rupiah makin tinggi.

5. Kalau mau mulai investasi, usaha baru atau proyek2, lebih baik tahan dulu min 6 bln ke depan. Tetangga kita seperti Malaysia, Thailand, Vietnam sdh mulai suffer kena imbas akibat Turki dan Eropa. Pertamina dan PLN saja sekarang diminta hold/freeze proyek2 s/d 6 bulan mendatang.

6. Usahakan gaya hidup sederhana dan ekonomis dan menabung. Kemungkinan banyak PHK dan inflasi tinggi akibat Turki dan perang dagang USD vs China.
Ini pesan untuk semua yang kerja maupun yg masih cari kerja.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menambahkan isi dari broadcast tersebut akan membuat panik masyarakat.

"Poin no 5 juga agak nggak valid. Malaysia dan Thailand masih kuat karena mereka surplus transaksi berjalan. Info seperti itu malah bikin panik. Saya nggak setuju sih itu," kata dia kepada detikFinance, Rabu (5/9/2018).

Ia menjelaskan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu pemerintah dalam menstabilkan harga rupiah.

Hal pertama yaitu kurangi konsumsi barang-barang impor, tunda perjalanan keluar negeri, perbanyak konsumsi barang domestik, jika punya dolar bisa langsung ditukarkan ke rupiah.

Yang terakhir yaitu, beraktivitas ekonomi seperti biasa dan tetap tenang percaya pada upaya pemerintah dan BI untuk kendalikan kurs rupiah.

"Diusahakan jangan dulu liburan ke luar negeri karena kan kalau liburan dan kita beli valas dan jual rupiah. Jadi kita tunda jalan-jalan keluar negeri. Sampai rupiah mulai stabil," jelas dia.





Nilai Rupiah Anjlok, Apa Kata Sandiaga? Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


Beredar Broadcast soal Rupiah yang Bikin Panik, Ini Kata Kemenkeu
(dna/hns)