Bisakah Amukan Dolar AS Mereda?

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 06 Sep 2018 09:10 WIB
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) hari ini sedikit mereda. Beberapa hari belakangan amukan mata uang Negeri Paman Sam ini tak kunjung selesai.

Dikutip dari data perdagangan Reuters, Rabu (5/9/2018), dolar AS terpantau bergerak pada level 14.880. Angka ini turun cukup dalam setelah kemarin dolar AS berada di 14.999, 1 poin lagi menembus level Rp 15.000.

Apakah ini pertanda amukan dolar AS mulai mereda?

"Sampai sejauh ini, gejolak rupiah masih dalam batas kewajaran, badai pasti berlalu," kata Aktivis dari Progres 98 Faizal Assegaf, Kamis (6/9/2018).



Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik ketimbang saat krisis 1998.

Saat krisis 1998, hampir seluruh indikator ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang tidak baik. Contohnya, pertumbuhan ekonomi yang minus dan inflasi yang melambung tinggi.

Pertumbuhan pada tahun 1998 minus 13,1%. Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.650 per dolar padahal IHSG pada saat itu hanya 256. Di 2018, ekonomi terus tumbuh menjadi 5.7%.

Saat 1998 cadangan devisa Indonesia hanya US$ 17,4 miliar dollar dan kredit bermasalah atau Nonperforming Loan (NPL) luar biasa tinggi hingga 30%.

Terpisah, Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini bukan karena faktor dari dalam negeri tetapi lebih karena faktor eksternal.

"Aksi jual lira Turki dan peso Argentina sangat berperan pada depresiasi drastis rupiah," jelas dia.



Saat ini memang Turki dan Argentina tengah masih dalam fase ketidakpastian ekonomi. Hal tersebut membuat investor melepas aset-aset beresiko seperti mata uang di negara berkembang termasuk rupiah.

Namun memang, pelemahan rupiah tidak terlalu besar karena kondisi ekonomi makro cukup stabil. Bahkan BI sebelumnya telah melakukan aksi antisipasi dengan menaikkan suku bunga acuan selama beberapa kali.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara pun mengatakan bahwa seharusnya pelemahan rupiah ini tidak perlu ditakutkan karena stabilitas ekonomi dan keuangan bisa terjaga dengan baik.

"Likuiditas terjaga baik, non performing loan (NPL) di perbankan Indonesia bahkan menurun dibandingkan 2015 dari 3,2 persen menjadi 2,7%." kata Mirza. (dna/zlf)