Audit Khusus Semen Padang Tak Membebani Proses Arbitrase

Audit Khusus Semen Padang Tak Membebani Proses Arbitrase

- detikFinance
Jumat, 12 Agu 2005 13:30 WIB
Jakarta - Pelaksanaan special audit atau audit khusus yang dilakukan PT Semen Gresik Tbk (SMGR) terhadap anak usahanya PT Semen Padang, diyakini tidak akan membebani proses arbitrase antara pemerintah dengan Cemex. Hasil special audit juga tidak akan berdampak signifikan terhadap laporan keuangan Semen Gresik Grup. "Menjadi kewajiban kita untuk menciptakan situasi kondusif jangan sampai pemerintah tidak memiliki kekuatan dalam proses arbitrase. Ini menjadi tekad kita semua untuk menyelesaikan kendala-kendala yang ada," kata Dirut PT Semen Gresik Tbk, Dwi Sutjipto dalam paparan publik yang berlangsung di BEJ, Jumat (12/8/2005). Pada 10 Desember 2003 lalu, Cemex secara resmi mengajukan tuntutan arbitrase terhadap Pemerintah Indonesia. Tuntutan disampaikan ke International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington DC, AS. Cemex selaku pemegang 25,53 persen saham Semen Gresik merasa perlu maju ke arbitrase internasional untuk menyelesaikan opsi atau hak membeli sisa saham pemerintah Indonesia (put option). Selain itu juga ada masalah tuntutan pemisahan saham (spin off) Semen Padang dari Semen Gresik. Menurut Dwi, pelaksanaan special audit itu terkait uji tuntas (due diligence dan special review yang tidak mengacu pada pedoman pelaksanaan standar akuntasi. Hal itu menyebabkan auditor tidak memberikan opini karena hanya menyangkut aktifitas internal perusahaan. Dijelaskan, special audit itu bertujuan untuk melihat efisensi dan perbaikan apa yang bisa dilakukan. Selain itu juga untuk melihat apakah cara kerja selama ini telah memenuhi standard operation procedure (SOP). Dwi menjelaskan, untuk menghindari adanya benturan kepentingan, mengingat Semen Gresik yang meminta special audit ke anak perusahaannya, maka Semen Padang dalam menindaklanjuti dan mengadakan verifikasi didampingi oleh konsultan independen. "Jadi yang memverifikasi bukan saya (Semen Gresik)," tegas Dwi. Yusuf Wibisana, auditor dari Haryanto Sahari & Rekan-Pricewater House & Cooper (PwC) mengatakan, pada tahun 2002 Semen Padang mencatat rugi bersih sebesar Rp 76 miliar. Padahal jika operasinya normal seharusnya perseroan mencatat rugi sekitar Rp 70 miliar. Besarnya kerugian ini disebabkan karena ada pos-pos yang tidak sesuai dengan standar akuntansi sehingga auditor memasukkannya dalam beban biaya. Beban biaya pada tahun 2002, diakui sebagai beban biaya terbesar Semen Padang. Dwi juga menjelaskan, hasil special audit paling lama satu tahun sejak rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) 27 Juni 2005. Sedangkan kemajuannya akan dilaporkan setiap tiga bulan oleh manajemen Semen Padang kepada direksi Semen Gresik dan selanjutnya kepada komisaris Semen Gresik untuk dilaporkan dalam RUPS tahunan berikutnya. Ditegaskan, bahwa hasil special audit ini tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja Semen Gresik Grup. Juga belum diketahui apakah akan ada penyajian ulang (restatement) terhadap laporan keuangan Semen Gresik grup berdasarkan hasil special audit.Sinergi Pemasaran Semen Gresik akan melakukan program sinergi pemasaran karena pos ini menghabiskan biaya yang cukup besar. Dengan adanya sinergi pemasaran menurut Dwi, maka overlapping cost bisa dihilangkan. Selama ini menurut dia, distribusi Semen Gresik dan anak-anak perusahaannya tidak efisien. Maka itu diperlukan relokasi daerah pemasaran yang lebih baik. "Semen Gresik kirim ke Ambon, padahal lebih dekat dilakukan oleh Semen Tonasa, atau Semen Tonasa kirim ke Jakarta yang seharusnya lebih dekat dikirim dari Semen Gresik," katanya. Untuk tahun 2005 Semen Gresik Grup menargetkan pertumbuhan penjualan 9-10 persen atau sama dengan pertumbuhan semen nasional tahun ini. Mengenai kenaikan harga BBM, diakui Dwi telah menaikkan beban biaya sebesar 3-4 persen. Namun meski ada kenaikan biaya perseroan belum berencana menaikkan harga produksi ke konsumen. "Yang jelas kita tetap akan maintenance profit tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ujar Dwi. Untuk rencana pembangunan pabrik baru, menurut Dwi, saat ini perseroan sedang memroses penunjukkan konsultan independen. Tugasnya untuk melakukan studi kelayakan menyeluruh tentang analisa pasar, pemilihan teknologi, pemilihan lokasi, harga pabrik, kemampuan keuangan dan masa pengembalian investasi. Pabrik baru tersebut diperkirakan akan menelan dana sebesar Rp 3 triliun yang akan memakan waktu selama 3-4 tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 1 triliun berasal dari internal perusahaan. Sedangkan sisanya Rp 2 triliun akan diupayakan dari pinjaman, kredit ekspor atau penerbitan obligasi. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads