Ancaman Harga Minyak dan SBI, IHSG Merosot 22 Poin

Ancaman Harga Minyak dan SBI, IHSG Merosot 22 Poin

- detikFinance
Senin, 15 Agu 2005 10:54 WIB
Jakarta - Tingginya harga minyak dunia dan suku bunga SBI kian mencemaskan pelaku pasar. Akibatnya, aksi jual saham pun kian deras dan memaksa IHSG turun hingga 22 poin (1,93 persen).Pada perdagangan Senin (15/8/2005), pukul 10.25 waktu JATS (Jakarta Automatic Trading System), IHSG anjlok hingga 22,359 poin (1,93 persen) pada level 1.131,609. Anjloknya indeks dipicu derasnya aksi jual saham terutama saham unggulan sektor perbankan dan telekomunikasiPerdagangan di pasar reguler mencatat transaksi 2.378 kali pada volume 712.659 lot saham senilai Rp 184,632 miliar. Hanya 5 saham naik, 79 turun dan 278 stagnan. Saham-saham yang mencatat penurunan terbesar di top loser didominasi oleh saham unggulan seperti Bank Danamon (BDNM) turun Rp 250 menjadi Rp 4.750, Indosat (ISAT) turun Rp 200 menjadi Rp 5.600, Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 5.100. Muhammad Reza dari Kuo Capital Raharja menyatakan, secara fundamental, indeks sebenarnya masih berada dalam tren kenaikan mengikuti pasar global dan regional seperti Nikkei, S&P 500 dan FTSE. Namun menurut Reza, untuk mencapai kenaikan indeks hingga mencapai resistensi di tingkat tertinggi, indeks harus terlebih dahulu mengalami koreksi. Dan saat ini koreksi indeks tengah terjadi dengan menggunakan momentum kenaikan harga minyak yang tidak terbendung dan diikuti pula dengan naiknya suku bunga SBI yang terus berlanjut. "Sebenarnya ketika indeks hampir menyentuh 1.090, diperkirakan akan mengalami koreksi cukup besar karena melihat rupiah yang tidak naik akibat tingginya suku bunga," kata Reza kepada detikcom.Ia memperkirakan, indeks akan terus melorot dalam jangka pendek hingga menembus level support 1.010. "Baru setelah itu indeks akan kembali naik dan melewati resisten tertingginya yang hampir 1.090," tambah Reza.Sentimen negatif dari dalam negeri yang masih dimanfaatkan investor adalah masalah kenaikan suku bunga SBI yang saat ini sudah menyebabkan jebloknya pasar obligasi. Namun faktor lain yang mendominasi adalah sentimen global seperti harga minyak dunia.Mengenai perjanjian antara pemerintah RI dan GAM, Reza menilai hal tersebut sebagai sentimen yang positif. Namun sentimen positif itu, tambah Reza, masih kalah dengan tekanan harga minyak dan suku bunga. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads