Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 08 Okt 2018 15:35 WIB

Tapal Batas

Kata Warga Perbatasan RI-Papua Nugini soal Dolar AS Rp 15.200

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Perbatasan RI-Papua Nugini/Foto: Muhammmad Ridho Perbatasan RI-Papua Nugini/Foto: Muhammmad Ridho
Skouw - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sedang tinggi. Saat ini, nilai dolar AS sudah tembus level Rp 15.200. Kondisi ini pun disorot banyak pihak dan ramai diperbincangkan.

Pasalnya, tingginya nilai dolar AS ini akan berdampak terhadap harga barang-barang hasil impor. Untuk barang konsumsi contohnya tempe yang bahan baku kedelainya masih hasil impor, kemudian harga daging ayam karena bahan pakannya yang juga impor.

Selain itu, barang konsumsi lainnya yang paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar adalah barang-barang elektronik, seperti handphone maupun laptop.

Masyarakat, seperti yang berada Jakarta mungkin merasa khawatir dengan hal itu. Apalagi, tingginya nilai tukar mata uang Paman Sam tersebut banyak dibahas secara berlebihan di ibu kota. Maklum, ibu kota memang selalu ramai bila ada hal-hal sensitif seperti itu.


Namun, bagaimana pengaruh tingginya nilai tukar ini di wilayah tapal batas Indonesia. seperti di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini? Kebanyakan warga yang tinggal di salah satu beranda Indonesia justru merasa tak banyak berpengaruh dengan kondisi tersebut.

Salah satunya seperti yang diakui oleh Siti Badriyah, pendatang asal Banyuwangi, Jawa Timur yang kini menetap dan berwirausaha di kawasan perbatasan. Walau tinggal di kawasan perbatasan, Siti mengaku ikut memantau terhadap isu-isu yang ada di ibu kota, contohnya tentang tingginya dolar AS.

"Dolar AS lagi naik, kita nggak terpengaruh. Di Papua ini mas, apapun kenaikan harga nggak ada demo. Itu yang enaknya, kita nyaman di sini," katanya kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Siti mengatakan, saat ini warga Papua tak lagi banyak meributkan hal-hal seperti penguatan dolar AS ataupun kenaikan harga. Dia juga bilang, secara umum harga di Papua lebih stabil dibanding di Pulau Jawa.

"Dolar (AS) nggak pengaruh di sini karena kita nggak pakai dolar. Jadi nggak ada kenaikan apa, sudah biasa. Misalnya harga pokok naik, biasa saja. Kita nggak ada masalah. Mau bensin naik berapa pun nggak pernah ko orang di sini demo, ribut-ribut. Nggak ada," ujarnya.

Siti pun tak pernah ambil pusing bila ada kenaikan harga pangan. Sebab, Siti yang merupakan penjual makanan juga tinggal menaikkan harga jualnya. Dia tak khawatir kalau pelanggan akan berkurang.

"Misalnya dari Rp 20.000 jadi Rp 25.000, itu juga tetap laku kalau di sini Alhamdulillah," tuturnya.

Selain Siti, Ivan warga perbatasan Indonesia-Papua Nugini lainnya juga mengungkapkan hal yang sama. Tingginya nilai tukar dolar AS juga tak bayak berpengaruh di sana. Kehebohan-kehebohan soal tingginya dolar AS seperti yang terjadi di Jakarta, juga tak ada di wilayah perbatasan.

"Kalau di Jakarta kan, dolar (AS) tinggi 'ih' kok begitu, kalau di sini (perbatasan) biasa-biasa saja. Kita nggak pengaruh, karena kita malah banyak pakai kina (mata uang Papua Nugini)," katanya.


Ivan juga mengatakan warga perbatasan tak banyak mempermasalahkan adanya kenaikan harga. Mereka tak pernah ambil pusing bila ada kenaikan harga, beda dengan di Jakarta yang selalu heboh.

"Kalau saya lihat di Jawa itu ada yang naik, langsung heboh, kalau di sini mah nggak. Cabai naik pun nggak masalah di sini," tuturnya.

Ikuti terus cerita-cerita menarik dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom!





Tonton juga 'Pasar Skouw Jadi Tempat Belanja Favorit Warga Papua Nugini':


[Gambas:Video 20detik]

(fdl/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed