Follow detikFinance
Senin, 22 Okt 2018 18:46 WIB

IHSG Landai, Investor Pindah ke Obligasi

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Perdagang saham di pasar modal belakangan ini cukup sepi. Nilai transaksi harian turun cukup dalam.

Hari ini saja nilai transaksi hanya sebesar Rp 5,9 triliun dengan jumlah 8,89 miliar lembar saham yang berpindah tangan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan kemarin rata-rata nilai transaksi juga hanya Rp 6,19 triliun. Turun 12,15% dari rata-rata nilai transaksi di pekan sebelumnya sebesar Rp 7,05 triliun.

Sementara rata-rata volume transaksi harian BEI pekan kemarin juga anjlok 25,02% dari 11,21 miliar saham menjadi 8,40 miliar saham.
Menurut Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali sepinya perdagangan saham belakang ini lebih karena faktor global. Dengan Bank Sentral AS, The Fed yang terus menaikan suku bunga memacu Bank Indonesia (BI) juga ikut melakukannya.

Tercatat dari awal tahun BI sudah menaikkan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate 150 basis poin menjadi 5,75%. Hal itu memacu kenaikan bunga surat utang yang menarik investor pasar modal.

"Saat ini investor lebih memilih di asset berupa obligasi karena interest rate masih terus naik. Otomatis yield meningkat dan membuat nilai obligasi lebih murah relatif dengan ekuitas, terbukti dari setiap adanya lelang SUN atau obligasi negara lainya selalu mengalami oversubscribe yang cukup signifikan," terangnya kepada detikFinance, Senin (22/10/2018).

Selain itu fluktuasi mata uang rupiah juga ikut mempengaruhi psikologis pelaku pasar. Hal itu juga membuat investor asing menarik dananya.

"Nilai tukar rupiah yang selama ini turun juga mendorong investor asing untuk memindahkan posisinya dari ekuitas di Indonesia karena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap US$ juga mengurangi keuntungan dari investasi di dalam negeri," tuturnya.
Hari ini investor asing tercatat melakukan aksi jual di seluruh pasar sebesar Rp 64,54 miliar. Sebenarnya investor asing melakukan pembelian di pasar nego dan tunai sebesar Rp 85,03 miliar namun mereka melakukan aksi jual di pasar reguler sebesar Rp 149,56 miliar.

"Saya rasa sementara tekanan yield yang masih terus naik dan nilai tukar yang belum stabil akan membuat investor mengambil langkah lebih konservatif dalam investasi di ekuitas," tutup Frederik. (das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed