Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 16 Nov 2018 14:01 WIB

Rupiah Tertekan Dolar AS, Pengusaha: Jangan Nyalahin Global Melulu!

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan semakin menguat setelah beberapa pekan lalu mata uang Paman Sam sempat tembus Rp 15.700.

Pagi ini penguatan rupiah terhadap dolar AS terjadi lagi, the greenback bisa ditekan hingga Rp 14.595. Tertekannya rupiah kerap kali disangkutkan pada berbagai kondisi perekonomian global.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani punya pendapat lain.

Tertekannya mata uang rupiah bukan hanya karena kondisi perekonomian global, namun juga karena masalah perekonomian di dalam negeri.

"Jangan nyalahin global melulu. Ini kan harus ada upaya misalnya untuk konversi perdagangan dari dolar AS ke renminbi nah itu kan dari swasta itu dari kita," jelas dia kepada detikFinance, Jumat (16/11/2018).


Ia menjelaskan, pihaknya bisa menerima upaya dari pemerintah untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melalui skema dinaikannya suku bunga menjadi 6%. Pihak swasta juga membantu penguatan tersebut dengan meningkatkan produksi untuk diekspor.

"Langkah awal yang akan dilakukan tadi ya kita melakukan konversi (dari dolar AS ke yuan China), kemudian untuk dolar kita bisa meningkatkan perdagangan dengan upaya-upaya ekspor. Kan sekarang kami didata nih, siapa sih pemain-pemain besarnya ekspor-impor ke China. Nah harapan saya sih kita sudah bisa mulai di Desember ini," kata dia.

Ia berharap, strategi kenaikan suku bunga acuan berhasil membuat rupiah makin kuat sehingga dolar AS bisa turun hingga ke kisaran Rp 14.000.

"Sekarang kita konsetrasi memperkuat rupiah dulu karena kalau rupiah bisa diperkuat dan bisa ditahan di bawah Rp 14.000 itu kita otomatis seluruh biaya produksi akan turun. Karena kita kan biaya produksi kan tergantung sama impor, jadi kalau itu bisa turun kemudian harga murah nah itu ada ruang tuh, daya beli naik," jelas dia


Ia menjelaskan, jika nilai rupiah menguat di angka Rp 14.000, maka bahan baku impor yang masih banyak dibutuhkan untuk industri di dalam negeri bisa dibeli lebih murah. Hal tersebut berdampak pada hasil produksi barang akan semakin meningkat.

"Memang pekerjaannya naik, tidak hanya itu. Nanti juga kita berpikir substitusi impornya gimana supaya ke depan itu impornya bisa kita kendalikan. Supaya kita tidak bergantung dengan impor," ujar dia.



Tonton juga 'Lemahnya Rupiah Bisa Jadi Daya Tarik Investor Asing':

[Gambas:Video 20detik]

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed