Rupiah Melemah, Utang Valas Indosat Aman

Rupiah Melemah, Utang Valas Indosat Aman

- detikFinance
Selasa, 30 Agu 2005 17:04 WIB
Jakarta - Pelemahan rupiah akhir-akhir ini tidak membuat beban utang valas PT Indosat Tbk (ISAT) bertambah. Indosat sudah melakukan lindung nilai (hedging) untuk mayoritas utang dalam valasnya.Total utang valas Indosat saat ini mencapai US$ 550 juta. Dari jumlah tersebut, sebesar US$ 475 juta sudah dilakukan hedging dan sisanya US$ 75 juta dalam posisi terbuka dan belum di-hedging."Kita tidak khawatir terhadap pelemahan rupiah karena sebagian besar utang sudah di-hedging yang posisi terbuka tinggal US$ 75 juta," kata Direktur Keuangan Indosat Wong Heang Tuck dalam paparan publik di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (30/8/2005).Dirut Indosat Hasnul Suhaimy mengatakan, total kewajiban Indosat per semester I-2005 mencapai Rp 12,484 triliun. Dari jumlah tersebut, utang dalam valas mencapai US$ 550 juta. Utang tersebut sudah dilakukan hedging sejak tahun lalu pada saat posisi rupiah Rp 8.400 per dolar dan Rp 9.800 per dolar AS. "Jadi untuk saat ini kondisi utang kita relatif aman dan tidak begitu berfluktuasi terhadap pelemahan rupiah," kata Hasnul.Meski rupiah babak belur, manajemen Indosat belum berpikir untuk refinancing karena masih dalam kerangka yang aman untuk kinerja Indosat. Demikian pula untuk belanja investasi (capex) yang pada tahun ini mencapai US$ 900 juta menurut Wong tidak akan terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Pasalnya, dana sebesar itu sudah tersedia baik untuk kebutuhan dolar maupun rupiahnya. Selama semester I-2005, Indosat telah mengeluarkan dana capex sebesar Rp 4,630 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 4,3 triliun sudah digunakan untuk pengembangan seluler. Kerjasama dengan Esia dan Mobile-8Hasnul menambahkan, CDMA StarOne milik Indosat untuk wilayah Jabotabek, Banten dan Jawa Barat telah kehilangan frekuensi karena StarOne memakai frekuensi 1.900 MHz. Padahal pemerintah sudah menetapkan frekuensi CDMA ada di 800 MHz. Untuk mengatasi itu, Indosat akan menjajaki kerjasama dengan Esia dan Mobile-8 agar konsumen yang ada di tiga wilayah itu tetap bisa menggunakan StarOne dengan cara migrasi ke operator tersebut. "Esia mempunyai frekuensi di 3 wilayah tadi. Sedangkan di tempat lain mereka tidak punya. Mungkin kita akan menukar pemakaiannya sehingga pemakai Esia maupun StarOne bisa saling migrasi," kata Hasnul.Kerjasama ini akan mulai dinegosiasikan bulan Oktober, dan diharapkan dalam dua sampai tiga bulannya lagi sudah ada kesepakatan untuk kerjasamanya. Pemerintah telah memberikan kesempatan untuk operator CDMA membuat jaringan di frekuensi 800 MHz 2-3 tahun ke depan. "Makanya, sebelum mengarah ke sana, kita akan melakukan kerjasama dengan Esia atau Mobile-8," ujar Hasnul yang mengaku belum bisa memberikan detail kompensasi kerjasama tersebut. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads