Asing Masih Jadi Tulang Punggung Industri Telekomunikasi

Asing Masih Jadi Tulang Punggung Industri Telekomunikasi

- detikFinance
Sabtu, 03 Sep 2005 14:50 WIB
Jakarta - Investor asing masih menjadi tulang punggung dalam industri telekomunikasi Indonesia. Dan ke depan, investor asing tetap akan tertarik dengan industri telekomunikasi meski kondisi Indonesia saat ini dirasa kurang menguntungkan.Demikian pengamat pasar modal Dandossi Matram dalam diskusi bertajuk "Peran Investor Asing dalam Industri Telekomunikasi Saat Bearish Market" di sebuah restoran di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (3/9/2005)."Investasi asing akan tetap tertarik dengan industri telekomunikasi Indonesia dan ini menjadi tulang punggung dari Indosat maupun Telkom," kata Dandossi.Dikatakan Dandossi, serapan industri telekomunikasi yang demikian tinggi disebabkan karena pada berapapun harga yang ditawarkan, pasar akan tetap menyerap.Hal senada disampaikan pengamat telematika Heru Sutadi. Ia menjelaskan, masuknya investasi asing disebabkan karena Indonesia belum mampu atau tidak memiliki modal untuk membiayai jaringan telekomunikasi seluruh Indonesia yang sangat luas. Ditambahkan Heru, investor asing baik dari Singapura maupun Malaysia begitu gencar masuk ke industri telekomunikasi Indonesia karena memang Indonesia membuka peluang sebesar-besarnya. Dan pada saat yang sama, industri telekomunikasi di negara-negara tersebut sudah mengalami titik jenuh. Saat ini tercatat pengguna seluler di Singapura sudah mencapai 60 persen dari keseluruhan penduduk. Sementara pangsa pasar telekomunikasi Indonesia sangat menggiurkan, yakni untuk penggunaan telpon tetap baru 4 persen dan seluler baru 13 persen dari total penduduk Indonesia.Pada Juni 2005, jumlah pelanggan seluler mencapai 39 juta pelanggan. Dan diprediksi pada akhir tahun 2005 dapat mencapai 47-50 juta pelanggan. Target 2006, jumlah pelanggan seluler akan mencapai 70-80 juta pelanggan. Investor asing saat ini memang menguasai sektor telekomunikasi Indonesia. Misalnya saja Telkomsel yang 35 persen sahamnya dimiliki Singapore Telecomunication Ltd.Demikian pula Indosat yang 41,9 persen sahamnya dimiliki Singapore Technology Telemedia (STT), Excelcomindo yang 27,3 persen sahamnya dimiliki Telekom Malaysia, Mandara Seluler Indonesia 82 persennya dimiliki oleh Polaris Singapore dan Twin Wood Afrika, Lippo Telekom dimiliki 51 persennya oleh Maxis Malaysia.Dandossi menambahkan, saat ini bisnis perbankan kalah menarik dibandingkan industri telekomunikasi. Karena serapan pasar pada bisnis ini sangat besar. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads