Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 04 Apr 2019 17:01 WIB

Kasus Produsen Taro Bisa Bikin Perusahaan RI Takut Investor Asing

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Polemik PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) hingga kini masih berlanjut. Berawal dari anak usaha yang tersandung kasus pasokan beras berujung pada perebutan kursi kekuasaan perusahaan.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman berharap, kasus yang menimpa AISA tak membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia takut membuka diri dengan perusahaan ekuitas swasta asing (private equity).

"Ya mudah-mudahan perusahaan-perusahaan Indonesia menjadi takut kerjasama dengan private equity dari luar. Nanti khawatirnya jadi pada takut kerjasama dengan private equity," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Seperti diketahui, AISA kini sudah diambil alih oleh Kohlberg Kravis Roberts (KKR). KKR merupakan perusahaan investasi ternama yang disebut-sebut mengalami kerugian terbesar sebagai pemegang saham AISA.

"Saya yakin mereka ingin benefit baik dari investasi bukan cari masalah, kerugian dan sensasi. Mudah-mudahan kasus ini cepat selesai dan image private equity baik," tambahnya.


Kisruh antara manajemen yang lama dengan manajemen AISA yang baru pun memasuki babak baru. Manajemen lama diduga menggelembungkan Rp 4 triliun di laporan keuangan tahun 2017. Hal itu terungkap dalam laporan Hasil Investigasi Berbasis Fakta PT Ernst & Young Indonesia (EY) atas manajemen baru AISA tertanggal 12 Maret 2019.

Adapun manajemen lama adalah pengelola perseroan sebelum RUPSLB tersebut. Manajemen lama perseroan terdiri dari Joko Mogoginta sebagai direktur utama dan tiga orang direksi lain yaitu Budhi Istanto, Hendra Adisubrata, dan Jo Tjong Seng.

Selain penggelembungan Rp 4 triliun tersebut, ada juga temuan dugaan penggelembungan pendapatan senilai Rp 662 miliar dan penggelembungan lain senilai Rp 329 miliar pada pos EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) entitas bisnis makanan dari emiten tersebut.

Temuan lain dari laporan EY tersebut adalah aliran dana Rp 1,78 triliun melalui berbagai skema dari Grup AISA kepada pihak-pihak yang diduga terafiliasi dengan manajemen lama.

"Terkait temuan EY ada yang bilang melanggar tata cara yang ada. Kalau melanggar sebaiknya segera di revisi. Ujung-ujungnya kami berharap mencari solusi terbaik," tambahnya.

Sebagai Ketua Asosiasi, Adhi berharap perusahaan yang menjadi anggota bisa segera pulih. Dia berharap kedua pihak yang berseteru bisa berdamai.

(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed