Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 08 Mei 2019 21:40 WIB

Garuda Jawab Tudingan Laporan Keuangan 'Poles' Harga Saham

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Garuda Indonesia/Foto: Istimewa Garuda Indonesia/Foto: Istimewa
Tangerang - Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menepis rumor pencatatan transaksi kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi untuk mengerek harga saham. Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal menerangkan, direksi yang baru ditunjuk pada September 2018. Sementara, harga saham mulai menanjak pada Desember 2018.

Harga saham perusahaan dengan kode GIAA ini sebutnya mencapai posisi tertinggi sampai Rp 630 per lembar saham pada pertengahan Maret 2019. Sementara, laporan keuangan tahun buku 2018 baru dirilis 28 Maret 2019.

"Sampai pertengahan Maret itu saham Garuda tertinggi Rp 630 per lembar saham. Ini menepis persepsi publik atau masyarakat pada umumnya dengan melakukan transaksi ini Garuda dianggap window dressing karena laporan keuangan Garuda tahun buku 2018 baru keluar 28 Maret," katanya dalam acara public expose di Hanggar GMF Aero Asia, Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Rabu (8/5/2019).


Menurutnya, harga saham Garuda Indonesia naik karena manajemen melakukan sejumlah inovasi. Sehingga, investor percaya pada kinerja maskapai pelat merah.

"Kenapa naik, karena manajemen aktif melakukan inovasi terobosan baru untuk memberikan nilai tambah penumpangnya," sambungnya.

Namun, saham perseroan Garuda Indonesia anjlok. Dia mengaku sedih atas kondisi ini.

"Kalau sekarang di bawah Rp 400, buat kita sedih juga," ujarnya.


Kerja sama 15 Tahun

Garuda Indonesia telah meneken kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi untuk penyediaan layanan Wifi. Kerja sama dengan durasi 15 tahun ini bernilai US$ 241,9 juta.

Lantas, bagaimana jika kerja sama putus tengah jalan? Iwan Joeniarto mengatakan, jika perjanjian ini putus tengah jalan maka tak akan menghilangkan hak tagih perusahaan pelat merah ini pada Mahata.

"Tidak mengurangi hak tagih, karena bisnis model bagus, kalau tiba-tiba Mahata alfa, harus keluar dari itu banyak yang akan take over. Karena investor banyak yang mau," terangnya.


Meski begitu, dia yakin kerja sama ini akan terus berlanjut. Sebab, Mahata sebagai perusahaan rintisan memiliki kontrak kerja sama dengan Lufthansa System, Luhthansa Technik, dan Inmarsat. Kemudian, Mahata merupakan bagian dari Global Mahata Group dengan nilai bisnis US$ 640,5 juta.

Dia tak khawatir bekerja sama dengan startup lantaran berkaca pada Go-Jek di mana perusahaan ini tumbuh menjadi perusahaan raksasa.

"Kita bukan lihat startup-nya, kita lihat bisnis modelnya bagus. Dulu Go-Jek orang menganggap sepele," ujarnya.


Sementara itu, Iwan bilang, tahun ini memasang layanan Wifi pada 15 pesawat Citilink, 4-5 unit A330 Garuda Indonesia, dan 10 pada pesawat 737NG Garuda Indonesia.

"Sebelumnya Wifi berbayar, nanti pesawat-pesawat Garuda yang dilengkapi Wifi karena kita sudah melakukan perjanjian dengan Mahata maka layanan Wifi Garuda akan dibebaskan seluruh pelanggan secara bertahap berdasarkan take over kontrak-kontrak Garuda Indonesia," tutupnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed