Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 11 Agu 2019 18:56 WIB

Tekan NPL, BTN akan Lelang Agunan Kredit Bermasalah

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Gejolak ekonomi global dan domestik membuat manajemen PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) merombak strategi bisnisnya. Salah satu strategi yang dijalankan juga menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Direktur Utama Bank BTN, Maryono menjelaskan, ada sejumlah penyesuaian RBB dengan mempertimbangkan kinerja bisnis perseroan. Perubahannya meliputi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun yang diprediksi berkisar 10-12% , sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) diprediksi juga tumbuh di level yang sama yaitu 10-12%, serta aset ditargetkan bisa tumbuh di kisaran 8-10%.

"Target pertumbuhan DPK dan kredit kami masih di atas RBB industri perbankan yang berada di angka 9-11% untuk kredit dan DPK yang hanya tumbuh 7 hingga 9%, kami optimistis kinerja Bank BTN tetap dalam jalurnya atau on track," ucapnya kepada detikFinance belum lama ini.


Dengan proyeksi meningkatnya penyaluran kredit, BTN juga akan lebih ketat dalam menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dengan melelang agunan KPR yang bermasalah. Perusahaan menargetkan NPL gross tetap dijaga di bawah 2,5%.

"Pengendalian NPL kami lakukan lewat pelelangan agunan yang tidak perform kepada developer maupun ke investor properti," kata Maryono.

Sejumlah strategi dijalankan Bank BTN untuk meraup pendanaan dan meningkatkan pertumbuhan kredit. Untuk Pendanaan, Bank BTN melakukan kombinasi antara dana dari wholesale funding seperti penerbitan obligasi berkelanjutan tahap II dan mengejar dana murah dari produk tabungan dan deposito.

Adapun segmen kredit yang digenjot adalah KPR non subsidi, kredit komersil dan kredit konstruksi. Ada beberapa hal yang jadi stimulus pertumbuhan kredit pada semester kedua tahun ini di antaranya kebijakan BI melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM).


Selain itu BI juga telah memangkas suku bunga acuan atau BI 7days reverse repo rate menjadi 5,75%, permintaan kredit terutama properti yang masih tinggi, serta stabilnya suhu politik pasca Pemilu Presiden lalu.

Lebih lanjut pada Rencana Bisnis Bank (RBB), Maryono juga menyampaikan revisi dari target rasio perbankan diantaranya, Rasio Kecukupan Modal dan rasio kredit macet dengan tetap menyesuaikan dengan aturan regulator. Untuk Capital Adequate Ratio (CAR) ditargetkan Maryono bisa bertahan pada kisaran 17-19%.

Simak Video "Berapa Harga Baru Rumah Bersubsidi Bebas PPN?"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com