Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 27 Sep 2019 14:14 WIB

Waskita Buka-bukaan Soal Utang Rp 103 Triliun

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan, (Vadhia Lidyana/detikFinance) Foto: Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan, (Vadhia Lidyana/detikFinance)
Jakarta - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) buka-bukaan soal utang per Juni 2019 yang menyentuh angka hingga Rp 103,719 triliun. Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan mengungkapkan, utang tersebut berasal dari berbagai komponen di antaranya, utang usaha atau operasional perusahaan, utang pajak, dan utang bank.

"Total utang kita, Rp 103,72 triliun. Apa saja isinya? Isinya itu ada utang usaha, utang pajak, kemudian ada utang bank. Itu sudah campuran di sini," tutur Haris kepada detikcom di kantor pusat Waskita, Jakarta, Selasa (24/9/2019).

Namun demikian, kata Haris, dari total utang tersebut, jumlah utang berbunga atau interest bearing debt (IBD) yang dicatatkan Waskita per Juni 2019 hanya sebesar Rp 77,19 triliun.


Dengan posisi tersebut, menurut Haris, posisi utang Waskita masih dalam batas aman. Pasalnya, jika melihat rasio utang terhadap ekuitas atau debt equity rasio (DER) dari utang berbunga sebesar Rp 77,19 triliun, maka rasio utang terhadap ekuitas hanya sebesar 2,68 kali.

"Kalau menggunakan standar obligasi atau standar analis, Rp 77 triliun compare Rp 28 triliun itu sebetulnya debt equity ratio kita hanya 2,68 kali," terang Haris.

Dengan angka rasio utang terhadap ekuitas tersebut, maka menurut Haris ruang utang masih sangat besar lantaran batas DER adalah sebesar 3,5 kali.

"Persyaratan batas atas untuk DER kita yang obligasi lama itu 3 kali, sementara yang masih baru adalah 3,5 kali. Jadi sebetulnya relatif aman," papar dia.


Haris menegaskan, untuk menghitung rasio utang terhadap ekuitas harus dibandingkan dengan utang berbunga. Karena, total utang yang sebesar Rp 103 triliun tersebut masih mengandung utang usaha atau operasional perusahaan yang bisa dikurangi dengan piutang usaha yang dimiliki perusahaan.

"Makanya para rating internasional, para pengamat menyebut utang kita besar karena tidak apple to apple membandingkannya. Dia lihat sisi utangnya adalah total utang, membandingkannnya dengan equity. Padahal namanya utang itu kan ada yang kita kerjakan proyek-proyek yang sebetulnya kita mau terima uang," tandasnya.

Simak Video "Utang BUMN Capai Rp 5.000 Triliun, Serikat Buruh: Masih Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com