Jasa Marga dan Indonesia Power akan IPO Tahun 2006
Kamis, 03 Nov 2005 12:42 WIB
Jakarta - Pemerintah akan tetap melaksanakan privatisasi pada tahun 2006. Namun privatisasi akan difokuskan melalui penawaran umum perdana atau IPO BUMN. Dua BUMN yang tengah diincar untuk IPO adalah Jasa Marga dan Indonesia Power (IP)."Saya tetap akan mengedepankan privatisasi dengan penonjolan melalui IPO. Dan IPO tidak semata-mata diperuntukkan untuk disetorkan menutupi defisit APBN, tetapi untuk meng-create value," ujar Meneg BUMN Sugiharto dalam Open House di kediamannya, Jalan Widya Chandra, Jakarta, Kamis (3/11/2005).Dengan masuknya dana segar, maka modal bisa terekapitalisasi dan selanjutnya bisa mendorong BUMN untuk menghasilkan untung yang lebih besar. "Yang kita sedang kita pelajari dan akan kita bawa ke roadshow adalah Indonesia Power, kemudian Jasa Marga, di antaranya bahwa yang barangkali kita sangat serius mempertimbangkan untuk di-IPO kan," ujar Sugiharto.Diungkapkan, untuk menunjukkan keseriusan IPO dua BUMN tersebut, pada pertengahan November 2005 akan dilakukan non deal roadshow ke New York, ke London, ke Boston yang dimaksudkan untuk memperkenalkan nama kedua BUMN tersebut. "Ini supaya nanti pada saatnya mereka menerbitkan debt capital market instrument apakah global bond, ataukah saham, dia sudah dikenal oleh pasar," ungkap Sugiharto.Meski belum memperoleh kepastian angka IPO, namun Sugiharto memberi ancar-ancar angkanya berkisar pada 20 persen. "Sizing-nya belum kita pastikan, tapi biasanya kalau IPO itu yang ideal tidak boleh kurang dari 20 persen, supaya likuiditas di secondary market itu lebih terbangun sehingga harga sahamnya lebih baik sebab kalau sahamnya juga sedikit, tidak likuid itu tidak akan menimbulkan sentimen harga yang positif," tambahnya.Namun belum bisa dipastikan apakah dana hasil IPO itu akan masuk sebagai working capital ataupun sebagian ke pemerintah. "Tergantung kebutuhan. Memang Jasa Marga misalnya dia memerlukan tambahan modal untuk meningkatkan leverage-nya. Sekarang leverage-nya kan terlalu besar, hampir 4 banding 1. Jadi kalau dia naikkan modal, di-reload 20 persen, maka ratio debt to equity lebih baik," kata Sugiharto.
(qom/)











































