Dankos Proyeksikan Penjualan Akhir 2005 Naik 30%

Dankos Proyeksikan Penjualan Akhir 2005 Naik 30%

- detikFinance
Jumat, 18 Nov 2005 14:26 WIB
Jakarta - Perusahaan farmasi PT Dankos Laboratories Tbk (DNKS) memproyeksikan penjualan bersih sampai akhir tahun ini tumbuh 25-30 persen. Sedangkan sampai September, perseroan telah mencatat penjualan bersih Rp 1,344 triliun atau naik 34,1 persen dibanding periode yang sama tahun 2004."Kontribusi penjualan itu berasal dari Dankos sendiri 27,5 persen, dan anak perusahaannya yaitu PT Bintang Toedjoe 62,3 persen, PT Hexpharm Jaya Laboratories 5,9 persen, dan PT Saka Farma Laboratories 4,3 persen," kata Presiden Direktur Dankos Herman Widjaja dalam paparan publik di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jumat (18/10/2005).Menurut Herman, selain penjualan domestik, ekspor hingga September juga tumbuh sangat baik. Terlihat dari peningkatan nilai ekspor dibanding periode sebelumnya yang hanya 6 persen dari total penjualan, sedangkan tahun ini mencapai 9,5 persen. Namun kenaikan tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi perolehan laba perseroan. Hal ini karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga tidak dapat mengimbangi kenaikan penjualan ekspor karena 90 persen bahan bakunya masih impor.Walaupu demikian, Dankos masih membukukan kenaikan laba bersih sebesar 50 persen dari periode yang sama tahun lalu. Laba bersih September 2005 mencapai Rp 241,7 miliar, sedangkan periode tahun 2004 hanya Rp 160,735 miliar.Mengenai rencana merger, dengan PT Kalbe Farma Tbk dan PT Enseval Putera M.T. Tbk yang akan efektif akhir Desember ini, Herman berharap, penggabungan usaha itu akan menjadikan perusahaan gabungan ini menjadi perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Keuntungan penyatuan ini, menurut dia, pemasaran akan lebih fokus dan produksi lebih efisien. "Dengan penggabungan itu tidak akan ada perubahan merek dagang," ujar Herman.Sementara Direktur Keuangan Dankos, Justian Sumardi memproyeksikan, setelah merger penjualan ekspor perseroan akan tetap sama. Saat ini kisaran ekspor perseroan berkisar 6-10 persen."Tapi volume dan nilainya lebih besar," kata Justian.Menurut Justian, sampai akhir tahun 2005 pasar farmasi Indonesia akan tumbuh sekitar 17 persen atau mencapai Rp 23,9 triliun. Obat yang memerlukan resep dokter tetap memiliki porsi lebih besar, sekitar 61 persen, dibanding obat bebas. Penjualan produk obat bebas Dankos tumbuh 39,5 persen dibanding periode tahun sebelumnya, sedang obat resep tumbuh 23,9 persen. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads