Kata Bos Baru Garuda soal Anak Usaha Bejibun hingga Tiket Mahal

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 24 Jan 2020 07:25 WIB
Kata Bos Baru Garuda soal Anak Usaha Bejibun hingga Tiket Mahal. Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom
Jakarta -

Untuk pertama kalinya, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) Irfan Setiaputra tampil dalam jumpa pers. Dirut baru Garuda itu membeberkan berbagai fokus dan strategi yang akan dilakukan maskapai pelat merah itu ke depan.

Menurut mantan dirut PT INTI (Persero) itu setidaknya ada tiga hal yang akan fokus dikerjakan sebagai prioritas dalam waktu dekat, yakni soal keamanan atau safety, peningkatan layanan kepada penumpang, dan mengembalikan kinerja positif perseroan.

Soal kinerja, Garuda diharapkan dapat kembali menorehkan keuntungan mengingat perusahaan pelat merah tersebut juga merupakan milik publik.

Tak ketinggalan, pria kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1964 tersebut juga berkomentar mengenai tuntutan penurunan harga tiket pesawat. Selain itu, Irfan juga membeberkan langkah perseroan terhadap inisiatif Menteri BUMN Erick Thohir untuk melakukan bersih-bersih terhadap anak usaha hingga cucu dan cicit BUMN.

Harga Tiket Pesawat

Harga tiket pesawat yang masih mahal menjadi salah satu fokus pertama yang akan dibenahi oleh jajaran direksi baru Garuda Indonesia. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan telah berdiskusi dengan jajaran direksi mengenai penyesuaian harga tiket pesawat.

"Soal tarif, kita direksi juga diskusi, kita bahas lagi dalam waktu dekat. Tapi kita akan review dari waktu ke waktu bagaimana tarif bisa memenuhi harapan dari para pelanggan kita," katanya.

Meski belum bisa memastikan kapan harga tiket pesawat Garuda bisa kembali normal, Irfan bilang pihaknya saat ini masih mencari formula agar hal ini bisa direalisasikan. Salah satu strategi Garuda yakni dengan mencari sumber pendapatan baru dari sisi non-aeronautical seperti bisnis kargo, iklan, dan lainnya.

"Kalau untuk avtur bukan 100% domain kita. Tapi kita akan lakukan negosiasi. Untuk maintenance kita lakukan penghematan tanpa mengurangi safety dan aturan SOP yang ada. Kita juga lihat possibility revenue lainnya," ungkapnya.

Polemik harga tiket pesawat memang belum reda. Pengusaha hingga menteri bahkan sempat mengeluhkan perihal ini meski pemerintah sudah melakukan kajian untuk menurunkan harga tiket pesawat.


Mahalnya tiket pesawat diyakini karena hilangnya tarif bervariasi alias sub kelas tarif pada maskapai Garuda Indonesia, sehingga alokasi tarif murah dalam satu penerbangan tak ada lagi. Kondisi tersebut diikuti oleh maskapai-maskapai lainnya sehingga harga tiket pesawat mahalnya merata.

Harga tiket pesawat memang sempat turun selepas libur tahun baru lalu. Namun penurunan tersebut diyakini lebih karena musim liburan telah usai.

Bagaimana dengan anak usaha?

Kata Bos Baru Garuda soal Anak Usaha Bejibun hingga Tiket Mahal


Selanjutnya
Halaman
1 2