Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 30 Jan 2020 10:18 WIB

Penting Banget, Biar Nggak Terjebak Saham Gorengan Seperti Jiwasraya

Danang Sugianto - detikFinance
Indeks harga saham gabungan (IHSG) berbalik melemah 0,07% atau 3,04 poin ke level 4.497,91 pada perdagangan Rabu (18/11/2015). Sementara HP Analytics mengemukakan indeks MSCI Asia Pacific dibuka menguat pagi tadi, didorong oleh penguatan pada saham di bursa Jepang. Mata uang yen melemah terhadap dolar menjelang pertemuan bank sentral Jepang (BOJ). Para investor juga menanti hasil minutes dari the Fed yang akan dirilis hari ini. IHSG hari  diperkirakan bergerak di kisaran 4.4534.545, Rabu (18/11/2015). Rachman Haryanto/detikcom. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Salah satu penyebab meledaknya kasus PT Asuransi Jiwasraya adalah kesalahan investasi di saham-saham gorengan. Alhasil uang kelolaan justru dinikmati oleh oknum-oknum pasar modal.

Saham goreng sering diibaratkan dengan makanan gorengan. Terlihat menggiurkan dan terasa nikmat, tapi di sisi lainnya bisa menyebabkan kolesterol dan penyakit berbahaya lainnya.

Sama seperti saham gorengan. Biasanya tidak bergerak dan fundamental biasa saja tapi tiba-tiba menguat drastis. Investor yang tergoda biasanya langsung beli. Padahal ketika si 'penggoreng' sudah mengeruk untung, kapan saja saham itu bisa kembali anjlok.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widito Widodo mengatakan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya melakukan berbagai cara agar investor bisa mewaspadai agar tidak terjebak saham gorengan.

"Sebenarnya banyak, paling mudah misalnya penetapan UMA (unusual market activity). UMA itu pada dasarnya adalah sinyal, bahwa investor itu perlu berhati-hati terhadap suatu saham," terangnya saat berbincang dengan detikcom.

BEI menjatuhkan UMA terhadap saham tertentu melalui keterbukaan informasi. Penjatuhan status UMA itu diberikan ketika BEI melihat adanya pergerakan yang tidak wajar dari suatu saham.

Laksono menjelaskan hal yang tidak wajar adalah ketika saham bergerak begitu kencang tapi ternyata tidak ada hal yang bisa menjadi alasan kenaikan harga tersebut. Misalnya fundamental keuangannya biasa saja, atau tidak adanya informasi mengenai kinerja bisnis perusahaan.

"UMA itu sudah warning, bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai antara pergerakan harga saham dengan fundamental perusahaan dan informasi yang ada, yang disampaikan ke market. Kalau misalnya ada perusahaan kecil tiba-tiba dapat order besar dengan alasan tertentu, kalau harganya naik dengan informasi yang sudah disampaikan melalui keterbukaan informasi enggak akan kena UMA, karena jelas alasan kenaikannya," terangnya.

Namun sayangnya sering kali pemberian status UMA disalah artikan oleh investor. Mereka terkadang menganggap UMA menjadi patokan untuk membeli saham yang mungkin tengah digoreng.

"Kalau ada UMA oh ini saham lagi digoreng. Jadi kita mesti lihat juga motivasi dari investor ritel tersebut, apakah motifnya berinvestasi atau berspekulasi. Kalau motifnya berspekulasi ya monggo. Tapi kita sudah memberikan warning," ucap Laksono.

Selain UMA, jika saham tersebut masih bergerak liar, BEI biasanya menjatuhkan suspensi atau saham tersebut dibekukan. Suspensi yang dijatuhkan bisa hanya bersifat cooling down atau juga bisa dalam jangka waktu yang panjang.

Ketika sebuah saham disuspensi, BEI akan meminta perusahaan untuk menggelar paparan publik. Manajemen diminta untuk menjelaskan fundamental perusahaan dan rencana pengembangan bisnis. Tujuannya agar investor bisa tahu apa yang tengah terjadi di dalam perusahaan.

BEI sendiri tahun lalu juga telah menerapkan notasi khusus di kode saham. Emiten atau perusahaan tercatat yang memiliki masalah akan mendapat semacam tanda sehingga investor bisa berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.



Simak Video "Panja Jiwasraya Akan Panggil Pihak Baru yang Telah Dicurigai"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com