Adhi Karya Targetkan Kontrak Baru Rp 5 Triliun Tahun 2006

Adhi Karya Targetkan Kontrak Baru Rp 5 Triliun Tahun 2006

- detikFinance
Rabu, 07 Des 2005 18:29 WIB
Jakarta - PT Adhi Karya Tbk menargetkan bisa meraup kontrak baru senilai Rp 5 triliun pada tahun 2006. Angka tersebut berarti meningkat 20 persen dibanding kontrak baru yang diperoleh Rp 4 triliun pada tahun 2005.Dengan demikian, perseroan berencana akan menggarap total proyek senilai Rp 8,05 triliun tahun 2006. Hal ini karena perseroan masih memiliki kontrak proyek tahun ini yang masih dilanjutkan tahun depan (carry over) senilai Rp 3,05 triliun."Kita nanti akan lebih banyak mengharapkan proyek-proyek baru dari pemerintah terkait dengan meningkatnya APBN 2006 dan adanya carry over APBN 2005," kata Direktur Utama Adhi Karya M. Saiful Imam dalam paparan publik di BEJ, Rabu (7/12/05).Dengan adanya total proyek Rp 8,05 triliun tersebut perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 4,1 triliun, naik 36 persen dari tahun ini Rp 3 triliun. Adapun, laba bersih pada 2006 diproyeksikan naik 28 persen menjadi Rp 90,2 miliar dibanding tahun ini Rp 70,3 miliar.Untuk menggarap proyek-proyek yang akan dilakukan tahun depan perseroan membiayai dari modal sendiri sebesar Rp 330 miliar, pinjaman bank maupun obligasi konversi atau convertible bond (CB) Rp 600-700 miliar dan uang muka dari pemilik proyek sekitar 10-20 persen dari nilai kontrak.Direktur Keuangan perseroan M Choliq juga mengatakan kondisi kenaikan suku bunga perbankan cukup mempengaruhi kondisi perseroan. Menurutnya, untuk saat ini suku bunga kredit untuk sektor konstruksi mencapai 17,5 persen. "Pengeloaan uang muka 10-20 persen tersebut penting untuk menyiasati agar kita tidak perlu menambah kredit baru dari bank," ujar Choliq. Sampai akhir tahun 2005, laba bersih perseroan diperkirakan akan lebih rendah sebesar Rp 70,3 miliar dibanding tahun lalu sebesar Rp 70,5 miliar. Menurut Saiful, hal ini akibat penundaan proyek-proyek pemerintah dari Agustus ke Oktober 2005. Selain itu juga terjadi slow down di proyek-proyek swasta. "Slow down tersebut dilakukan terkait kenaikan harga BBM, sehingga perseroan bisa melakukan negosiasi ulang pemilik proyek," ujar Saiful.Right issueDalam kesempatan yang sama, Saiful mengatakan saat ini rencana right issue perseroan belum mendapatkan persetujuan dari menteri negara BUMN. Right issue tersebut masih terhambat karena pemerintah meminta porsi sahamnya di perseroan tetap 51 persen tanpa harus ikut mengeksekusi.Rencananya melalui right issue tersebut perseroan akan mendapat dana segar senilai Rp 600 Miliar. Dengan dana tersebut perseroan akan melakukan leverage utang sebanyak 2 kali Sebanyak Rp 1,2 triliun. Sehingga total dana yang didapat Rp 1,8 triliun."Rp 1 triliun akan digunakan untuk berinvestasi di jalan tol, Rp 300 - 350 miliar digunakan untuk mengakuisisi BUMN lain, dan sisanya untuk modal kerja," ujar Choliq.Akuisisi tersebut sejalan dengan rencana Menteri BUMN untuk merampingkan jumlah BUMN. Saat ini BUMN yang bergerak di sektor konstruksi sebanyak 9 perusahaan."Rencananya ke depannya jadi tinggal empat perusahaan," ujar Choliq. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads