Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 20 Mar 2020 11:31 WIB

Tinggalkan 4.000, Pelemahan IHSG Kini Lebih Parah dari Krisis 2008

Trio Hamdani - detikFinance
Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/11/2016). IHSG ditutup meroket hingga 1,57%. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) imbas wabah virus corona (Covid-19) dinilai lebih parah dibandingkan saat krisis 2008, walaupun dari level indeksnya belum serendah kala itu.

Pagi ini IHSG sudah terkoreksi 101 poin (2,4%) ke level 4.003. Tak lama berselang, IHSG turun 108 poin (2,6%) ke level 3.997. Beruntungnya Indonesia punya protokol trading halt, yaitu penghentian sementara perdagangan ketika IHSG anjlok di level tertentu.

"Untuk IHSG saat ini ya, kalau saat ini sih dibilang lebih parah mungkin lebih parah karena nggak ada fluktuasi ya. Setiap hari kita lihat trading halt. Terus saham-saham juga berguguran sampai auto reject bawahnya di 7%," kata Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani saat dihubungi detikcom, Jumat (20/3/2020).

Dia menjelaskan, tren pelemahan IHSG kali ini lebih parah dibandingkan krisis 2008 karena minimnya fluktuasi indeks atau koreksi ke arah positif. Dengan kata lain pergerakan IHSG konsisten menuju level bawah.

"Itu secara penurunan lebih parah dari 2008 karena kalau 2008 itu masih ada fluktuasi naik beberapa kali. (Sekarang) itu lebih parah, dan ini lebih cepat terjadi," jelasnya.

Tapi setidaknya IHSG tertolong oleh protokol trading halt. Jadi penurunan indeks saham lebih terbatas ketimbang terjun bebas.

"Secara penurunan karena kita sudah ada skema yang ditahan 5% halt, protokol anti krisis. Jadi penurunannya lebih terbatas karena ada protokol anti krisis dari BEI. Jadi penurunannya lebih terbatas secara harian," tambahnya.



Simak Video "Dolar Tembus Rp 14.200 "
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com