Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 21 Mar 2020 20:30 WIB

Dolar AS Tekuk Rupiah, RI Harus Waspada Utang Luar Negeri

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp 13.000,- menjadi alarm buat investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun masuk dalam tren melemah yang cukup parah dalam beberapa hari terakhir. Seorang nasabah tengah menukar mata uang dolar di Bank CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (16/06/2015). Rengga Sancaya/detikcom. Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Dolar AS terus menguat menggencet ke rupiah hingga berada di level Rp 16.000. Hal ini terjadi akibat paniknya pasar dengan perkembangan corona (covid-19) yang semakin luas di Indonesia.

Di sisi lain, penguatan dolar AS terhadap rupiah juga harus membuat pemerintah waspada terhadap lonjakan nilai utang luar negeri. Khususnya utang luar negeri yang jatuh temponya kurang dari satu tahun alias jangka pendek.

"Ini pastinya banyak perusahaan swasta yang tidak melakukan hedging, sehingga jika ada selisih kurs seperti ini efeknya cukup bisa dirasakan, beban ULN nya semakin meningkat," kata Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara kepada detikcom, Sabtu (21/3/2020).

Sejumlah perusahaan swasta juga berpotensi mengajukan restrukturisasi bunga utang atau cicilan pokok. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi default atau gagal bayar utang luar negeri swasta.


Bhima menambahkan, ruang fiskal akan semakin sempit, sementara beban untuk biaya bunganya akan menggeser pos belanja lainnya.

Bukan itu saja, utang luar negeri pemerintah juga kondisinya akan membengkak. "Pembengkakan ini yang akan menanggung adalah rakyat, karena adanya pelebaran defisit anggaran penerimaan pajak rendah, rasio pajak di bawah 10%, sementara ULN semakin naik," terang Bhima.



Simak Video "Rupiah Keok Dihajar Dolar AS, Tembus Rp 14.500"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com