Target Laba Asuransi Bintang 2005 Meleset
Senin, 12 Des 2005 18:00 WIB
Jakarta - Perusahaan asuransi, PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) diperkirakan tidak akan mencapai target pertumbuhan laba bersih pada tahun 2005 karena sengitnya perang premi di industri asuransi. Perseroan menargetkan laba bersih tahun 2005 sebesar Rp 5,5 miliar atau tumbuh sekitar 190 persen. Namun, berdasarkan perkembangan hingga triwulan III-2005, estimasi laba bersih hanya mencapai Rp 4 miliar atau naik 110 persen dari tahun lalu Rp 1,9 miliar. "Kami perkirakan akan membukukan laba bersih sekitar Rp 4 miliar pada tahun ini. Ini berarti hanya tumbuh 110 persen dari tahun lalu sebesar Rp 1,9 miliar," kata Presiden Direktur Asuransi Bintang Ariyanti Suliyanto, usai paparan publik di Mercantile Club Bank Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/12/2005). Target pendapatan premi bruto juga meleset karena persaingan tidak sehat tersebut. Tercatat hingga akhir tahun ini diperkirakan pendapatan premi bruto hanya mencapai Rp 168 miliar atau tumbuh sekitar 5,6 persen. Angka ini juga di bawah target awal sebesar Rp 176 miliar atau tumbuh sekitar 10,69 persen dari tahun lalu Rp 159,7 miliar. Sampai akhir triwulan III-2005 perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 3,8 miliar dan pendapatan premi bruto sebesar Rp 118,9 miliar. Hasil investasi dalam saham, reksa dana dan obligasi yang tidak optimal juga turut andil dalam tidak tercapainya target perseroan. Direktur keuangan Djauhar Mahari mengatakan, perseroan berencana melakukan pergantian portofolio investasi secara perlahan dan memperbanyak unsur fixed income atau pendapatan tetap. Saat ini dari total modal Rp 50 miliar, sekitar 40 persen diinvestasikan dalam bentuk deposito, saham 25 persen, obligasi 17 persen, reksa dana 2 persen, dan properti 20 persen. "Saham akan dikurangi menjadi 15 persen, properti juga akan kami kurangi," kata Djauhar tanpa merinci lebih lanjut. Persaingan Industri Ariyanti juga mengatakan, sampai tahun depan kondisi persaingan industri asuransi masih tidak sehat. "Seharusnya tahun ini sudah selesai karena sudah berdarah-darah tapi kalau tidak ada yang mulai untuk bersaing secara sehat tinggal tunggu sampai habis-habisan saja," ujar Ariyanti. Menghadapi hal itu, perseroan menerapkan strategi agar tidak terjebak dalam persaingan tidak sehat tersebut. Untuk itu Perseroan juga berupaya melakukan modifikasi pada produk asuransinya, intensifikasi dan penetrasi ke pasar-pasar baru. "Dengan terobosan itu, tahun depan perseroan memproyeksikan pendapatan premi bruto tumbuh 14 persen," tutur Ariyanti.
(ir/)











































