Penyebab Rupiah Ikut Menderita Saat Harga Minyak Anjlok

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 22 Apr 2020 13:15 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat diperdagangkan di level Rp 10.400 pada pagi tadi kini bergerak liar hingga level Rp 10.700. Hingga Siang hari ini, Selasa (20/8/2013) Beberapa Bank menjual valasnya dengan harga di atas Rp 11.000.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Harga minyak masih di level rendah membuat pelaku pasar berbalik arah memburu dolar Amerika Serikat. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan turunnya harga minyak ini disebabkan oleh pasokan yang besar namun kehabisan tempat untuk menampung.

Kemudian kebijakan social distancing akibat pandemi COVID-19 juga turut mempengaruhi harga miyak karena konsumsi yang terus turun. Hal ini menjadikan kebutuhan minyak global turun dari sebelumnya 100 juta barel per hari menjadi hanya 30 juta barel per hari.

"Wajar jika harga minyak mentah turun dan berdampak pada perekonomian. Apalagi negara penghasil minyak akan terpukul sekali. Dulu saja harga US$ 40 per barel rugi, apalagi sekarang," kata Ibrahim saat dihubungi detikcom, Rabu (22/4/2020).

Situasi tersebut di atas mendorong para investor mencari yang lebih aman yakni dolar AS. "Sehingga wajar jika rupiah kembali tertekan karena dolarnya menguat," imbuh dia.


Menurut Ibrahim selain harga minyak kabar kesehatan pimpinan Korea Utara Kim Jong Un juga menimbulkan ketidakpastian. Pasar khawatir jika ketegangan konflik di semenanjung Korea akan terjadi.

Hal ini pula yang membuat pasar kembali ke safe haven dan dolar AS. Dia menyebut hingga akhir perdagangan hari ini rupiah diproyeksi menguat karena sentimen positif dari Bank Indonesia (BI) tentang pengumuman lelang perdana surat utang negara (SUN) di bursa internasional.

Mengutip Reuters dolar AS hari ini tercatat Rp 15.507. Kemudian dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) 15.567.



Simak Video "Dolar AS Bertahan di Rp 14.380 Pagi Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)