Investor Ramai-ramai Tanam Duit di China di Tengah Corona

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2020 12:20 WIB
Imbas Virus Corona yang merebak dan menelan ratusan korban jiwa kini mulai menggoyang ekonomi China dan beberapa negara di Asia seperti Jepang. Pasar saham China pun ambruk sejak pembukaan perdagangan.
Ilustrasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Dislokasi pasar yang dipicu oleh virus Corona membawa keuntungan sendiri bagi pasar saham China. Belakangan banyak dana asing yang masuk ke pasar saham China dan beberapa analis melihat tren dislokasi pasar ini akan berlangsung dalam jangka panjang.

"Kami mendapati banyak investor asing secara global merombak kepemilikan mereka dalam kekacauan ini. Dalam hal ini, alokasi ke China menunjukkan peningkatan," ujar Kepala Firma dari EPFR Todd Willits dikutip dari CNBC, Kamis (14/5/2020).

Ketika pasar saham Amerika Serikat (AS) anjlok ke posisi terendah dalam tiga tahun terakhir, alokasi untuk saham China mencapai US$ 2 triliun. Alokasi sebesar itu menunjukkan peningkatan sekitar 20% dibanding tahun lalu dan sekitar 17% dari enam tahun lalu.

Untuk investasi yang fokus pada pasar saham negara berkembang, rata-rata alokasi untuk China mencapai 34%, sedangkan untuk dana yang diinvestasikan untuk pasar saham Asia secara menyeluruh (tidak termasuk Jepang), alokasi yang masuk ke China mencapai 38%.

Meski ketegangan perdagangan antara China dan AS masih berlanjut, minat investor terhadap China tetap tinggi.

Pada Jumat, 8 Mei 2020 kemarin, Kingsoft Cloud menjadi perusahaan China pertama yang melantai di pasar modal AS dengan peningkatan saham lebih dari 40% dalam tiga hari perdagangan. Valuasi perusahaan ini sebesar US$ 5 miliar.

Tak hanya pasar saham China yang melandai di bursa AS yang kecipratan cuan, Ahli strategi Morgan Stanley mengatakan, investor global lebih suka saham dari China dibanding AS. Terutama untuk saham blue chip berdenominasi yuan yang terdaftar di bursa Shanghai dan Shenzhen.

Saham blue chip China secara bertahap menjadi bagian dari portofolio investasi global, terutama setelah perusahaan pengindeksan MSCI mengumumkan pada 2018 lalu bahwa saham China akan menjadi bagian dari indeks Emerging Market MSCI. Sejak tahap pertama keikutsertaan saham China di MSCI, jumlah investor asing di China langsung melonjak sekitar 30%.



Simak Video "Klaster Baru Covid-19 di Bejing Lewat Ikan dan Produk Laut"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)