Lantai Bursa Tak Lagi Menarik?

Catatan BEJ Tahun 2005 (1)

Lantai Bursa Tak Lagi Menarik?

- detikFinance
Senin, 26 Des 2005 10:10 WIB
Jakarta - Lantai bursa seperti kehilangan daya magnetnya dalam menjaring perusahaan yang akan go public di tahun 2005. Alih-alih mencapai target, para emiten yang sudah 'mapan' bahkan ramai-ramai keluar dari bursa alias go private.Bursa Efek Jakarta (BEJ) hanya mampu memancing delapan emiten di tahun ayam ini, jauh dari target semula 10-15 emiten atau target sebelum direvisi 30 emiten.Kondisi ekonomi di awal tahun 2005 yang sempat menjanjikan, ternyata berbalik arah pada semester II-2005 setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Nyali perusahaan untuk go public pun menciut sehingga rencana melantai di bursa pun ditunda.Minimnya insentif dituding menjadi salah satu penyebab malasnya perusahaan masuk bursa. Selain itu, di negeri ini ternyata menjadi perusahaan terbuka belum bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan. Untuk mengetahui kondisi bursa saham sepanjang tahun ini dan upaya BEJ menggairahkan pasar saham di tahun 2006, berikut petikan wawancara dengan Direktur Utama (Dirut) BEJ Erry Firmansyah. Wawancara khusus oleh detikcom dilakukan pada Rabu (20/12/2005) di ruang rapat BEJ.Target emiten tahun ini gimana ?Di tahun 2005 ini sebenarnya target cukup realistis, tapi banyak yang mundur atau kita tolak. Ada 2 atau 3 yang tidak sepakat soal harga. Ada juga yang belum mendapat ijin dari bank. Sebenarnya cukup realistis karena ada 5 yang ditolak. Tapi memang belum mencapai target karena situasinya begitu.Yang terjadi justru banyak yang go private, kenapa?Saya nggak bisa menebak, tapi itu adalah situasi yang tidak bisa dihindari. Kita lihat kan umumnya yang terjadi pada perusahaan yang diambil asing, seperti Aqua dan Komatsu. Sebelumnya Multi Agro diambil Malaysia.Mungkin karena peraturannya, kan kalau beli diatas 25 persen harus tender offer, kalau menarik ya, orang jual.Nanti kita lihat lagi peraturannya. Kalau ada yang go private juga kita akan cari lagi yang lain. Hal lain adalah insentif, pajak. Harus ada pembedaan dan insentif pajak bagi perusahaan terbuka, sebab kalau tidak lebih baik diluar.Bagaimana menarik perusahaan agar lebih banyak yang masuk dan bertahan di bursa ?Kalau kita lihat di India kenapa sampai 5 ribu perusahaan, karena mereka bangga menjadi perusahaan publik dan transparansi juga jalan. Disini mungkin karena sikonnya (situasi dan kondisi) berbeda. Orang mungkin melihat ngapain saya musti transparan, bayar pajak.BEJ hanya menciptakan kemudahan bagi mereka untuk mencari dana murah, tapi ada yang mahal, transparansi. Itu yang harus disadari oleh pengusaha kita yang akan go public.Kita akan memperbaiki infrastruktur dan aturan kita. Tapi insentif juga dibutuhkan agar pasar modal lebih baik lagi di tahun depan.Saat ini juga banyak emiten yang buy back, arahnya kemana ?Buy back saham itu kan untuk meningkatkan value. Dengan buy back, saham yang beredar agak berkurang sehingga bisa meningkatkan harga, seperti yang dilakukan Telkom dan BCA. Mereka juga kan bisa lebih bagus.Akibatnya harga akan positif dan mereka bisa keluarkan lagi pelan-pelan. Bukan dalam artian akan disimpan terus. Jadi sangat positif dalam jangka panjang untuk tingkatkan value.Untuk saham-saham yang masih tidak likuid bagaimana penanganannya ?Kita coba pikirkan adanya market maker untuk saham-saham yang tidak likuid. Perlu kajian cukup mendalam agar implementasinya tidak salah karena market maker dekat dengan insider trading.Kalau kita sudah siap kita bisa ciptakan market maker untuk tingkatkan likuiditas dari saham sub level atau fourth level. Rencananya akan dipelajari di 2006Ada kesan peraturan BEJ kurang ketat, seperti kasus minimnya saham publik Excelcomindo, suspensi Bukaka yang sudah empat tahun dan Texmaco yang perusahaannya tidak jelas masih ditoleransi ? Bukaka dikasih waktu 2 tahun. Bukaka sedang lakukan restrukturisasi. Kita lihat sampai Juli 2006. Mereka juga mau ketemu kita kok beberapa minggu kedepan.Kalau kita lihat secara operasional juga baik sekali. Pemegang saham publiknya ada 25 persen, kita harus bisa berikan proteksi kepada semuanya. Kalau tidak memungkinkan kita juga angkat tangan.Selama kita bisa bantu emiten dan investor kenapa tidak, kan kita juga sudah kasih time frame.Excelcomindo menurut saya tidak bisa dibilang peraturannya tidak tegas karena di sana dibilang 100 juta atau atas pemegang saham independen. Ternyata ada pemegang saham yang punya 10 persen atau 700 juta saham independen dan ini yang digunakan sebagai loophole.Mereka juga sudah sepakat akan melepas sahamnya untuk meningkatkan likuiditas, cuma mereka masih kaji time frame kembali.Untuk saham Excelcomindo apa BEJ memberi batas waktu untuk tambah saham publik ?Perlu ada pembicaraan yang baik, karena ini adalah investor asing. Di sana saham-saham mereka kena lock up baru habis September, kalau tidak kena ini mereka bisa lepas sekarang. Pembicaraan dengan mereka positif kok.Jadi penambahan publik Excelcomindo baru September, sampai lock up habis?Tidak juga. Kalau memungkinkan sebelum itu juga mereka bisa jual. Mereka akan jual secara bertahap. Tapi kembali lagi, mereka bertanya kalau mereka jual tapi yang beli investor institusi kan tetap saja, dan itu bagaimana ? Selama melalui mekanisme pasar dan itu pihak independen kita tidak bisa apa-apa. Itu adalah suatu hal yang harus diterima, katakanlah dijual tapi yang beli Jamsostek atau Schroders kan tidak ada masalah, tapi tetap likuiditasnya tidak likuid dan maka kita kaji hati-hati.Yang terjadi adalah peminat dari investor lokal kecil ketimbang investor asing sehingga Khazanah dan Telekom Malaysia berkepentingan menambah investasinya makanya mereka kuasai lebih dar 51 persen.Investor lokal tampak lebih tertarik kepada saham Telkom dan Indosat, buat apa saya beli XL karena mahal. Disinilah Telekom Malaysia masuk untuk menaikkan porsi sahamnya. Texmaco dan Polysindo kan baru selesai dari kepailitannya, operasinya masih jalan. Kalau Texmaco saya sedang cari waktu untuk ketemu PPA (Perusahaan Pengelola Aset), karena ini punya pemerintah, kita harus tahu ini mau kemana.Kalau tahu kemana kan kita bisa bantu, jangan malah langsung didelisting. Kalau tidak bisa ya apa boleh buat.Untuk voluntary delisting peraturan pengawasan bagaimana ?Dulu kita haruskan 300 pihak, tapi kita tidak bisa memaksa orang untuk terus memiliki saham itu karena ini tidak market friendly. Sekarang untuk masuk papan pengembangan harus 500 pihak, setelah itu tergantung performance dan kecintaan investor kepada saham. Ini adalah mekanisme pasar.Tidak ada peraturan yang bisa memuaskan semua pihak, dulu dianggap terlalu kaku, sekarang dianggap terlalu loose.Kalau ditentukan dari presentasinya bagaimana ?Nanti dianggap rigid lagi kalau tidak 25 persen harus didelisting, karena 10 persen pun orang boleh go public. Tapi tergantung tujuannya. kalau untuk tarik foreign investor masuk ke indeks tidak bisa, karena floatingnya harus 20-25 persen.Tapi kalau dengan 10 persen dia sudah bisa keluarkan 1,5 miliar lembar saham sudah cukup. Kalau terlalu rigid peraturannya nanti tidak ada yang masuk.Ada upaya untuk tingkatkan good corporate governance (GCG) emiten ?Kita kan juga lakukan beberapa hal untuk melihat GCG, misalnya annual report award. Kemudian untuk gambarannya melaui laporan keuangannya. Kan ada peraturan BEJ yang diikuti.Kita juga sedang bicara dengan Komite Nasional GCG untuk membantu pemeringkat tapi biayanya 50 ribu dolar per emiten.Paling tidak kita tingkatkan manfaat GCG bagi emiten, kita juga lakukan survei untuk lihat GCG. Ada peningkatan tapi masih kurang, penerapan GCG kan tidak bisa sendiri tapi lihat peraturan di lingkungan kita.Bapepam juga berupaya tingkatkan peraturan mengenai GCG. Perusahaan seperti Astra Internasional, BCA kan dapat premium dari investor. Kalau dilihat dari pertumbuhan indeks kita yang terbaik di ASEAN 10-15 persen.Untuk tahun depan target emiten berapa ?Untuk tahun depan kita targetkan 20 emiten. Saya sudah ketemu dengan 3 Anggota Bursa (AB) mungkin sudah 10 yang siap.Ada yang dari BUMN ?Dari BUMN kita dengar ada Jasa Marga, tapi kan terkait peraturan, yang swasta yang kita undang. BUMN memang jadi motor pergerakan pasar modal, kita harapkan lebih banyak BUMN yang masuk. dan memudahkan pengawasan pemerintah dari masyarakat.Dari 10 emiten tahun depan berapa yang sektor riil dan jasa? Imbang 5-5, saya sudah ketemu 3 calon mereka sudah katakan siap. Mudah-mudahan bisa masuk semua Juni karenaa da yang pakai laporan keungan Oktober dan September.Pelaksanaan e-reporting tahun depan gimana? Tahun depan jalan, kita sudah ke Bapepam. kita sepakat untuk gunakan sistem Bapepam dengan beberapa perubahan dan adjustment terhadap sistem tersebut. Kita sudah kirimkan surat dua minggu lalu minta agar sistem tersebut diserahkan ke kita dan kita kembangkan untuk implementasi tahun 2006.Pengembangannya mungkin 4-6 bulan jadi tidak bisa operasi di awal tahun. Nanti BEJ yang akan jalankan. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads