Ada Mahasiswa Bunuh Diri karena Main Saham, Perusahaan Ini Dikecam

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2020 09:50 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Anggota parlemen Amerika Serikat (AS) mendesak aplikasi perdagangan Robinhood untuk meningkatan keamanan. Hal ini karena sempat terjadi insiden bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa berusia 20 tahun karena melihat saldonya negatif hingga US$ 730 ribu.

"Ini seharusnya tidak terjadi," kata anggota aparlemen Lauren Underwood kepada CNN Business.

Sebelumnya keluarga mahasiswa pengguna aplikasi perdagangan tersebut menyebut jika anaknya bunuh diri pada 12 Juni karena bingung dengan saldo perdagangannya negatif.

Underwood menilai kejadian ini harus menjadi perhatian serius untuk Robinhood.

Pihak Robinhood menyebut akan bertanggung jawab untuk para pengguna setianya. "Kami akan serius bertanggung jawab. Kami juga akan bekerja sama dengan senator untuk hal tersebut," jelas juru bicara Robinhood dalam sebuah pernyataan.

Co-CEO Robinhood Vlad Tenev dan Baiju Bhatt mengungkapkan akan meningkatkan antar muka untuk aplikasinya tersebut. Selain itu Robinhood juga memberikan sumbangan hingga US$ 250.000 kepada American Foundation for Suicide Prevention.

Robinhood memang sebuah aplikasi perdagangan yang menyasar investor milenial dan masuk kategori pemula. Sama seperti Kearns (investor muda yang bunuh diri), ia menggunakan Robinhood dengan instrumen investasi yang berisiko tinggi.

Keluarga Kearns menilai tampilan antarmuka aplikasi ini mencantumkan jika Kearns berutang hingga US$ 730.000.



Simak Video "Buntut Corona, SoftBank Jual 198 Juta Lembar Saham"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)