Vaksin Corona Kerek Harga Saham Farmasi, Analis: Spekulatif

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 25 Jul 2020 16:40 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini ditutup di zona merah. IHSG cenderung bergerak di teritori negatif sepanjang perdagangan hari ini.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Indonesia baru saja menerima 2.400 dosis sampel vaksin Corona dari China. Saat ini, sampel vaksin tersebut telah diserahkan ke PT Bio Farma untuk diuji coba tahap III. Bila berhasil, mulai Januari 2021 mendatang, Indonesia siap memproduksi vaksin Corona secara massal.

Hal ini membuat saham sektor farmasi berhasil menguat dalam beberapa pekan ini. Di antaranya seperti saham PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) yang ditutup menguat 11,06% ke harga Rp 2.610 dan saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) juga melejit hingga 2,62% ke harga Rp 2.740 pada perdagangan Jumat (25/7) kemarin.

Lantas, apakah tren penguatan ini bakal berlanjut lagi? Apakah sudah waktunya beli?

Menurut Analis pasar modal dari MNC Sekuritas Edwin Sebayang, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyerok saham-saham di sektor farmasi. Karena harganya sudah melambung terlalu tinggi.

"Kalau kita lihat ada beberapa saham yang sudah tidak rasional lagi, sudah sangat mahal seperti Kimia Farma, Indofarma itu sudah terlalu mahal, ya karena itu tadi kalaupun berhasil vaksin tadi itu baru kejadian tahun depan (keuntungannya) sedangkan tahun ini mereka belum akan tercermin, jadi nggak worth it ya beli saham dengan kenaikan yang cepat seperti itu," kata Edwin kepada detikcom, Sabtu (25/7/2020).

Menurut Edwin, kenaikan harga saham farmasi menjadi tidak rasional karena masih ada kemungkinan uji coba klinis vaksin tersebut bisa berakhir gagal. Ditambah lagi bila melihat fundamental masing-masing saham sektor tersebut, masih ada yang mencatatkan kerugian pada laporan keuangan mereka.

"Kenaikan saham kali ini sangat spekulatif sekali. (Fundamental) kalau prospek tentu ada prospeknya tapi itu baru tercermin nanti di 2021, sekarang sudah terlalu mahal, apalagi kan Indofarma itu sebenarnya masih mengalami kerugian dari kuartal I-2020," tambahnya.

Hal serupa disampaikan Analis Pasar Saham sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee. Menurut Hans Kwee, tren penguatan saham ini berisiko anjlok bila uji coba vaksinnya gagal.

"Pengujian vaksin itu butuh waktu, ada probalitas gagal, berdasarkan historikal itu 42% probabilitasnya gagal, jadi tentu ada risiko yang dihadapi dalam pengembangan vaksin ini, apalagi sekarang harganya sudah naik banyak, jadi harus hati-hati," ujar Hans.

Investor disarankan untuk menahan dulu keinginannya menyerok saham sektor ini. Karena lonjakan harganya rata-rata bisa mencapai 100% lebih.

"Kalau menurut saya jangan beli sekarang, INAF itu sudah naik sangat banyak, dari 1.000-an sekarang sudah 2.600, jadi enggak lah, nggak beli sekarang, KAEF juga begitu dari 1.200 paling sekarang sudah 2.700, ya nggak worth itu untuk sekarang ini," imbuhnya.



Simak Video "Masih Dibahas, Harga Vaksin Corona di Indonesia Belum Ditetapkan"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)