Pengakuan Jokowi yang Pasrah saat COVID-19 'Serang' Pasar Modal

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 10 Agu 2020 10:59 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku ragu dengan ketahanan pasar modal Indonesia saat pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia. Namun keraguannya ternyata tidak terbukti.

Hal itu disampaikannya dalam rekaman video yang dibuat Jokowi untuk peringatan HUT diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia yang ke 43 tahun, Senin (10/8/2020).

"Saat kita hadapi pandemi COVID-19 ini ada kekhawatiran dalam diri saya terhadap industri pasar modal kita apakah mampu bertahan," ucapnya.

Kekhawatiran Jokowi itu tentu beralasan. Sebab pandemi COVID-19 telah menimbulkan ketidakpastian yang panjang, sehingga mempengaruhi aktivitas investasi.

"Namun kekhawatiran saya itu hingga saat ini tidak terjadi karena otoritas pasar modal sigap menyiapkan berbagai kebijakan," tambahnya.

Memang sejak diumumkannya kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada Maret lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas. IHSG yang tadinya di atas 6.300-am terus turun hingga menyentuh level terendahnya di posisi 3.937 pada akhir April 2020.

Namun setelah itu IHSG kembali pulih. Kini IHSG sudah berada di level 5.100-an. Meskipun volatilitas masih terjadi di pasar modal.

"Bahkan pasar modal kita tetap dapat menorehkan kinerja yang ini dibuktikan adanya 35 IPO baru tahun ini dan penambahan produk lainya, dan itu jumlah IPO tertinggi di antara bursa ASEAN sepanjang 2020. Jumlah investor Indonesia juga mencapai 3 juta atau naik 3 kali lipat dalam 3 tahun terakhir. Saya sangat apresiasi pencapaian ini," tambah Jokowi.

Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam sambutannya menjelaskan sederet kebijakan yang telah diambil OJK dan para SRO untuk mencegah penurunan IHSG. Seperti pelarangan transaksi short selling, buyback saham tanpa melalui RUPS, perubahan batasan auto rejection (asymmetric), peniadaan saham yang dapat diperdagangkan pada sesi pra pembukaan, trading halt untuk penurunan 5% dan pemendekan jam perdagangan efek.

"Ini paket kebijakan yang kami tempuh untuk meredam volatilitas. Selain itu berbagai kebijakan relaksasi kami keluarkan agar industri pasar modal bisa bertahan," tuturnya.

Acara peresmian peringatan diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia tahun ini terasa berbeda. Karena dilakukan secara virtual dan tatap muka. Para pejabat pun memberikan sambutannya melalui virtual dan rekaman video.



Simak Video "Dapat Komitmen 290 Juta Vaksin, Jokowi: Kalau Berlebih Dijual"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)