Dividen Global Anjlok Rp 5.900 T, Terburuk Sejak 2009

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 24 Agu 2020 10:01 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) mengakibatkan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia memangkas pembayaran dividen 17% -23% selama tahun 2020 ini. Nilai dari pemangkasan tersebut mencapai US$ 400 miliar atau sekitar Rp 5.902 triliun (kurs Rp 14.755).

Di kuartal II-2020 sendiri, pembayaran dividen global turun hingga US$ 108 miliar atau sekitar Rp 1.593 triliun, menjadi hanya US$ 382 miliar atau sekitar Rp 5.636 triliun atau sekitar 22% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 menurut global asset management group Janus Henderson. Penurunan itu merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan tahun 2009.

Namun, perusahaan-perusahaan di kawasan Amerika Utara, tepatnya di Kanada masih menunjukkan pembayaran dividen yang baik. Sementara, lebih dari setengah perusahaan-perusahaan di Eropa yang terkena dampak terparah langsung mengumumkan pembatalan pembayaran dividen. Totalnya, 27% perusahaan di dunia memangkas dividennya.

"2020 akan menunjukkan hasil terburuk untuk dividen global sejak krisis keuangan 2009," tulis laporan Janus Henderson seperti yang dilansir dari Reuters, Senin (24/8/2020).

Di Eropa, bank dan perusahaan keuangan lainnya yang diperintahkan oleh Bank Sentral untuk berhenti membayar dividen menyumbang 45% dari penurunan dividen pada kuartal II-2020 atau sekitar US$ 77 miliar atau sekitar Rp 1.136 triliun di wilayah tersebut.

Perusahaan tambang dan perminyakan juga menunjukkan penurunan pembayaran dividen yang jauh lebih rendah akibat merosotnya harga komoditas dan kebijakan lockdown di berbagai negara.

Kinerja pembayaran dividen yang masih positif hanya ditunjukkan oleh perusahaan teknologi dan telekomunikasi, serta yang bergerak di bidang kesehatan. Bahkan, perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan peningkatan pada pembayaran dividen masing-masing 1,8% dan 0,1%.

Ketahanan teknologi tersebut juga telah membantu Microsoft (MSFT.O) dan Apple (AAPL.O) masuk ke dalam sepuluh besar pembayar dividen dunia untuk pertama kalinya tahun ini. Sementara itu, pembayar terbesar masih diduduki oleh Nestle (NESN.S).

"Tren dividen mencerminkan tren di masyarakat dan pasar saham saat ini. Mungkin kita akan melihat peningkatan di sektor teknologi," kata head of global equity income Janus Henderson, Ben Lofthouse.

Beberapa faktor kunci akan menentukan seberapa kuat pemulihan dividen nantinya. Yang masih dalam tanda tanya apakah perusahaan-perusahaan AS, dan bank-bank Eropa mendapatkan lampu hijau awal tahun depan untuk memulai kembali pembayaran mereka.

"Pertanyaan besar bagi AS, apa yang akan terjadi pada kuartal keempat. Jika banyak perusahaan melakukan pemotongan dividen yang signifikan, pembayaran akan ditetapkan pada tingkat yang lebih rendah hingga menjelang akhir 2021," tutup Lofthouse.



Simak Video "Wall Street Ikut 'Terinfeksi' Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)