Angka Pengangguran Turun, tapi Bursa Saham AS Masih Loyo

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 04 Sep 2020 21:15 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Mayoritas bursa saham Amerika Serikat (AS) terpantau loyo meski Departemen Tenaga Kerja mengumumkan penurunan tingkat pengangguran di bawah 10% pada Agustus 2020.

Dilansir dari Reuters, Jumat (4/9/2020), indeks saham S&P 500 (.SPX) dibuka melemah 1,46 poin atau 0,04%, pada 3.453,60. Sementara, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 48,32 poin, atau 0,17%, pada pembukaan ke 28.341,05.

Nasdaq Composite (.IXIC) turun 61,86 poin, atau 0,54%, menjadi 11.396,24 pada bel pembukaan.

Pada bulan Juli, tingkat pengangguran AS tembus 10,2%. Sementara, di bulan Agustus turun menjadi 8,4%, padahal prediksi dari sejumlah ekonom hanyalah di kisaran 9,8%. Di bulan Juli, terjadi peningkatan 1,73 juta pekerja manufaktur dan konstruksi (nonfarm payroll). Sementara, di bulan Agustus meningkat sebanyak 1,37 juta pekerja.

Namun, data tersebut justru memicu tekanan besar pada Gedung Putih dan Kongres agar melanjutkan negosiasi yang macet soal perpanjangan paket stimulus Corona. Hal ini dinilai harus dilakukan untuk mengeluarkan AS dari jurang resesi.

"Data tersebut konsisten dengan pasar tenaga kerja yang membaik yang membantu mendukung konsumsi, tetapi masih jauh dari level sebelum COVID-19," kata ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute. Sameer Samana.

Setelah naik ke rekor tertinggi didukung stimulus bersejarah dan reli sempit di saham teknologi kelas berat, S&P 500 dan Nasdaq mengalami hari terburuk mereka dalam hampir tiga bulan karena investor membukukan keuntungan.

Apple Inc (AAPL.O), Microsoft Inc (MSFT.O), Amazon.com Inc (AMZN.O), Tesla Inc (TSLA.O) dan Nvidia Inc (NVDA.O), yang menanggung beban kerugian pada hari Kamis (3/9) lalu, penurunan diperpanjang menjadi antara 1% dan 4% dalam perdagangan pra-pasar.

"Hari ini Anda melihat peserta mencoba untuk menguji apakah aksi jual kemarin akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari itu, atau hanya tekanan jual satu hari," kata Kepala Strategi Investasi di SlateStone Wealth LLC Robert Pavlik, di New York.

Namun, sejumlah manajer investasi telah memperingatkan penurunan harga saham tersebut pada hari Kamis kemarin. Menjelang pemilihan presiden pada 3 November mendatang, bursa AS juga diperkirakan akan mengalami volatilitas yang tinggi.

(dna/dna)