Laju Rupiah, Saham dan Emas Dibayangi Resesi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 28 Sep 2020 05:30 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi Indonesia masuk jurang resesi pada kuartal III 2020. Sebab, pertumbuhan ekonomi kuartal III kembali minus melanjutkan kuartal sebelumnya.

"Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah minus 1,7% sampai minus 0,6%. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal 3," kata Sri Mulyani dalam video conference APBN KiTa, Selasa (22/9) lalu.

Lantas, bagaimana laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah dan emas pada pekan ini?

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan IHSG cenderung melemah sepekan ke depan. Dia memperkirakan, IHSG berada di level support 4.820-4.754 dan resistance 4.978-5.187.

"Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat di awal pekan dan cenderung melemah di tengah sampai akhir pekan. IHSG bergerak dengan level support di level 4.820 sampai 4.754 dan resistance di level 4,978 sampai 5,187 dengan kecenderung melemah dalam sepekan ke depan," kata Hans dalam risetnya, Minggu (27/9/2020).

Sejumlah sentimen mempengaruhi kinerja IHSG dalam sepekan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari luar negeri, Hans menyebut salah satunya terkait rencana stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi di Amerika Serikat (AS). Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai US$ 2,2 triliun.

"Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian. Pernyataan ini menurunkan kredibilitas the Fed sendiri tetapi mendorong pemerintah dan parlemen segera meloloskan stimulus fiskal baru untuk mengatasi dampak COVID-19," terangnya.

Pasar saham Indonesia telah menguat pada akhir pekan ini. Penguatan ini didukung klaim pemerintah provinsi DKI Jakarta jika penerapan PSBB total jilid dua berhasil menekan angka kasus baru COVID-19. Selain itu kabar vaksin perusahaan China yang berhasil menjadi tambahan sentimen positif. Meski begitu, Hans bilang perpanjangan PSBB akan menjadi sentimen negatif pasar saham.

"PSBB jilid dua sampai Oktober menjadi sentimen negative bagi pasar. Biarpun PSBB ketat hanya diberlakukan di Ibu kota Jakarta, tetapi Jakarta punya kontribusi besar pada perekonomian Indonesia sehingga berpeluang menekan perekonomian Indonesia," terangnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4


Simak Video "Sisa 1 Minggu Lagi Buat RI Cegah Jurang Resesi, Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]