Dolar AS dan Emas Merosot Usai Trump Keluar RS, Waktunya Beli?

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 13:56 WIB
Melanjutkan tren positif sejak Selasa kemarin, nilai tukar rupiah menguat melawan dolar AS.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) dan emas global turut terpengaruh oleh kondisi kesehatan Presiden AS Donald Trump. Trump meninggalkan RS Walter Reed setelah dinyatakan positif COVID-19. Trump dikabarkan telah kembali ke Gedung Putih.

Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, meski tak dominan mempengaruhi pergerakan dolar AS dan emas, namun sejak awal ramainya pemberitaan soal kesehatan Trump mencuat ke publik, harga emas sempat terangkat ke level US$ 1.918 per troy ons.

Namun, saat Trump dikabarkan pulih, harga emas kembali melandai. Bahkan pagi tadi, harga emas berada di level US$ 1.908 per troy ounce. Dolar AS juga ikut melemah.

Lalu, apakah ini waktu yang tepat untuk beli emas dan valas?

Menurut Ibrahim, sah-sah saja bila ingin membeli valas di tengah situasi ini. Namun, yang tetap harus dipecah ke beberapa instrumen investasi lainnya.

"Kalau saat ini, untuk investor ya, kalau bisa dalam melakukan investasi jangan satu keranjang, bisa transaksi di saham, obligasi, emas, maupun di valas, jadi melihat situasi, karena pada saat di saham mengalami kerugian dia akan mendapat keuntungan di emas," ujar Ibrahim kepada detikcom, Selasa (6/10/2020).

Ia mencontohkan, jika saat ini Anda memiliki dana Rp 1 miliar, maka pakailah 20% atau Rp 200 juta dari total uang tersebut untuk investasi. Namun, itu pun harus dibagi-bagi lagi ke beberapa instrumen. Jangan semuanya dimasukkan dalam satu instrumen investasi saja.

"Jadi pembagiannya bisa begini Rp 150 juta lari ke valas dan emas, nah Rp 50 juta itu masuk ke saham dan obligasi, karena saham dan obligasi tidak perlu uang besar, dan di situlah nasabah akan mendapatkan keuntungannya, dan harus diingat bahwa uang yang diinvestasikan itu adalah bukan uang hidup, artinya uang untuk investasi, sehingga tidak ada ketakutan tiba-tiba rugi. Kalau cuma 20% yang dipakai, kerugiannya tidak terlalu terasa, jangan punya uang Rp 1 miliar dimasukkan semua ke investasi," terangnya.

Hal serupa disampaikan oleh Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra. Menurutnya, kabar kondisi kesehatan Trump cenderung membuat investor berani keluar dari aset safe haven seperti valas dan emas dan beralih ke yang lebih berisiko seperti saham.

Untuk itu, ada baiknya investor menunggu terlebih dahulu di tengah situasi seperti ini terutama terhadap instrumen emas. Karena bisa saja harganya kembali melemah lagi nanti.

"Untuk investasi jangka pendek sebaiknya wait and see, Harga emas masih bisa tertekan bila vaksin ditemukan," kata Ariston.

Analis Bank Mandiri Reny Putri juga memberi saran serupa untuk transaksi valas. Meski rupiah masih berpotensi menguat minggu ini di kisaran Rp 14.650-14.760, namun pasar masih fluktuatif.

"Selective buy dulu mengingat volatilitas pasar masih tinggi. Tetap berhati-hati karena risikonya masih tinggi," tutur Reni.

(ara/ara)