RUU Cipta Kerja Disahkan Bikin IHSG Melambung, Rupiah Bagaimana?

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 18:23 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja telah memberikan sentimen positif kepada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lalu bagaimana dengan rupiah?

Melansir data Reuters, Selasa (6/10/2020), nilai tukar rupiah sore ini menguat 70 poin atau 0,47% dari posisi sebelumnya ke level Rp 14.720.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai penguatan rupiah itu sebagian dipengaruhi oleh pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Meskipun didorong juga dari sisi eksternal terkait kondisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang semakin membaik.

"Memang karena Omnibus Law harusnya menguat. Tapi sentimen Trump juga membantu. Karena Trump keluar dari rumah sakit orang-orang jual lagi dolar AS dan mulai bergerak lagi masuk ke mata uang yang berisiko," ucapnya kepada detikcom.

Omnibus Law memang diyakini oleh dunia usaha untuk membenahi regulasi yang tumpang tindih. Oleh karena itu menurut Hans UU sapu jagat itu bisa mendatangkan lebih banyak investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI).

Oleh karena itu, lanjut Hans, dengan adanya Omnibus Law Cipta Kerja bisa mendorong masuknya dana asing ke Indonesia. Meskipun untuk mencapai itu butuh waktu, karena diperlukan berbagai aturan turunannya. Dia memprediksi rupiah bisa terus menguat ke level Rp 14.400 dalam jangka pendek.

Sementara Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi justru melihat sebaliknya. Banyaknya pasal yang membuat buruh merasa dirugikan menimbulkan gejolak baru.

Menurut Ibrahim aksi buruh hari ini yang tersebar di beberapa titik justru menahan penguatan rupiah. Dia menilai seharusnya rupiah bisa menguat lebih tinggi.

"Dengan penolakan dari kaum buruh mata uang garuda terkikis penguatannya dari awal perdagangan menguat di 177 poin berubah drastis di penutupan pasar menjadi 65 poin. Ini akibat data internal yang kurang mendukung terhadap penguatan rupiah," ucapnya.

Ibrahim memprediksi besok rupiah akan kembali menguat, namun bersifat terbatas, yakni naik sekitar 20-70 poin di level Rp 14.700-14.750.

(das/eds)