Omnibus Law Cipta Kerja Disahkan, Saham-saham Konstruksi Melayang

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 15:55 WIB
Puluhan buruh yang tergabung Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) melalukan aksi unjuk rasa di kawasan Pos 9 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/10). Dalam aksi tersebut mereka menolak pengesahan RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diyakini juga disebabkan sentimen positif dari pengesahan Rancangan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja kemarin. Menariknya, penguatan IHSG hari ini salah satunya digerakkan oleh saham-saham di sektor konstruksi.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai salah satu hal yang menjadi perhatian para pelaku pasar adalah terkait pertanahan. Dengan adanya Omnibus Law Cipta Kerja diharapkan sengkarut dalam proses pembebasan lahan bisa lebih cepat diselesaikan. Oleh karena itu pengaruhnya ke saham-saham konstruksi dan properti.

"Itu kan UU sapu jagat, pembebasan lahan segala macam itu kan bagus. Makanya saham-saham konstruksi dan properti mayoritas menguat dan Indonesia bisa dapat investasi dari luar," terangnya ketika dihubungi detikcom, Selasa (6/10/2020).

Hari ini hampir semua saham konstruksi menguat cukup tinggi. Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) naik 7,8% ke Rp 1.175, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 3,96% ke Rp 525, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik 4,85% ke Rp 540. Selain itu saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga ikut naik 3,91% ke posisi RP 3.720.

Hans yakin IHSG akan terus menguat lantaran juga ditopang sentimen positif dari eksternal terkait kondisi Presiden AS Donald Trump yang semakin membaik. Dia merekomendasikan untuk

Sementara Head of Investment di PT Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai sentimen dari pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja hari ini hanya sesaat. Sebab dibutuhkan deretan peraturan turunan untuk bisa kebijakan-kebijakan itu diterapkan.

Untuk saham konstruksi sendiri juga dia menilai hal yang sama. Penguatan saham konstruksi diprediksi hanya bersifat sementara.

"Saya melihat ini sentimen sesaat. Besok-besok saya pikir penggerak IHSG akan kembali ke backbone-nya. Karena untuk saham konstruksi dan infrastruktur kan sekarang lagi masa pandemi. Jadi sebenarnya yang masih dalam penggerak IHSG perbankan dan konsumer, paling ditambah sama sektor farmasi," ucapnya.

Meski begitu dia memprediksi IHSG masih bisa menguat hingga level psikologis 5.500-5.250. Level itu bisa capai jika IHSG bisa bertahan di atas level psikologis 5.000.

(das/eds)