Angin Segar Omnibus Law buat IHSG dan Rupiah

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 08:30 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja memberikan sentimen positif kepada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG kemarin ditutup menguat 0,82% ke 4.999 dan sempat menguat hingga 1,3%.

SVP Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menilai, penguatan IHSG saat ini cukup banyak dipengaruhi oleh pengesahan RUU yang terbilang kontroversial itu. Sebab para pelaku pasar percaya Omnibus Law Cipta Kerja bisa memberikan dampak positif bagi investasi asing di Indonesia

"Omnibus Law sangat berpengaruh positif kepada ekonomi dan IHSG. Dengan disahkan Omnibus Law tentunya akan berdampak sangat positif bagi investasi jangka panjang di Indonesia. Khususnya sektor manufaktur yang memanfaatkan adanya relokasi manufaktur dari China ke negara-negara Asean khususnya Indonesia. This will boost FDI," terangnya kepada detikcom.

Dengan meningkatnya investasi, dipercaya akan berpengaruh kepada neraca perdagangan Indonesia. Dengan begitu akan mengurangi ketergantungan arus masuk modal melalui pasar modal, dan menstabilkan rupiah.

Janson menilai penguatan IHSG akan terus berlanjut. Dalam jangka pendek IHSG bisa menguat hingga mencapai level 5.150.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas juga menilai hal yang sama. Dia juga yakin Omnibus Law Cipta Kerja bisa mendorong Foreign Direct Investment (FDI)

"Ketika banyak investasi asing yang masuk artinya ada arus kas yang masuk positif untuk Indonesia," ucapnya.

Lalu bagaimana dengan rupiah?

Selanjutnya
Halaman
1 2