Rupiah Diramal Berotot Pekan Depan, Begini Analisanya

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 11 Okt 2020 22:10 WIB
Melanjutkan tren positif sejak Selasa kemarin, nilai tukar rupiah menguat melawan dolar AS.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Rupiah diproyeksi akan berotot alias menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan. Rupiah diproyeksi berada di kisaran level Rp 14.600 sampai Rp 14.750 per dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan tren penguatan rupiah didorong oleh sejumlah sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, ada sentimen disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja yang dianggap bisa menarik investor dan baik bagi para pengusaha.

"Pasca demonstrasi Cipta Kerja kemarin pasar kembali lagi positif terhadap mata uang rupiah. Walaupun kita tahu demonstrasi kemarin sempat terjadi huru-hara, kita tahu pasar tidak begitu saja mengikuti alur cerita yang terjadi di demonstrasi tersebut. Pasar melihatnya tentang isi dari UU Omnibus Law tersebut yang ke depannya ini akan lebih baik dibandingkan sebelumnya," kata Ibrahim kepada detikcom, Minggu (11/10/2020).

Kemudian, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menerapkan PSBB transisi juga dinilai akan menambah sentimen positif terhadap rupiah untuk pekan depan.

"Ini sedikit menambah kepercayaan pasar, bisa saja nanti kafe-kafe sudah kembali buka ini akan menambah konsumsi masyarakat. Itu akan kembali lagi berjalan, ini sebenarnya apa yang diinginkan oleh pasar," tuturnya.

Sedangkan dari luar negeri, adanya rencana guyuran stimulus dari Bank Sentral Eropa. Dari pemerintah AS sendiri, kemungkinan akan menggelontorkan stimulus dan tunjangan penerbangan serta pengangguran yang jumlahnya besar.

"Tapi ini baru rencana, apakah memang benar di minggu besok akan dilakukan itu tergantung dari pemerintahan Amerika sendiri karena dari parlemen sendiri sudah menginginkan cepat digelontorkan stimulus tersebut," ucapnya.

Proyeksi rupiah akan menguat selama sepekan ke depan juga dikatakan oleh Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee. Dia menambahkan alasan lainnya karena adanya sentimen pemilu AS.

"Rupiah berpeluang menguat karena sentimen pemilu AS," tandasnya.

(dna/dna)