Resesi Gak Mempan! IHSG Diprediksi Strong Sampai Akhir Tahun

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 13 Nov 2020 13:40 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Bursa saham Indonesia dinilai akan tetap strong atau menguat sampai akhir tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan positif mengikuti tren pemulihan ekonomi yang masuk jurang resesi karena terdampak pandemi virus Corona (COVID-19).

"Kita confident bahwa pola IHSG adalah trennya recover. At least sampai dengan akhir tahun ini karena kita melihat bahwa pola tren ekonomi kita adalah recover," kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020).

Hasil pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) dan perkembangan vaksin membuat pandangan pelaku pasar keuangan terhadap prospek ekonomi berbalik menjadi positif dari sebelumnya.

"Tahun depan kita lihat pemerintah cukup agresif untuk mengadakan vaksin agar tersedia di Indonesia. Jadi vaksin ini adalah salah satu kunci agar ekonomi kita bisa kembali pulih ke kapasitas pra-COVID-19. Makanya itu, vaksin adalah salah satu yang harus kita keep monitoring untuk yakin bahwa tahun depan ekonomi full recover," ucapnya.

Tren penguatan itu diprediksi akan terus berlanjut sampai 2021. Terlebih jika vaksin sudah bisa disuntikkan ke masyarakat, IHSG diprediksi terus menguat dan ekonomi bisa pulih secara keseluruhan.

"Kalau vaksinnya sudah ada dan terdistribusi dengan baik di Indonesia, semua sudah di vaksinasi, ekonomi akan recover dan ini akan pengaruh juga positif ke economy growth sama positif ke sentimen di Indonesia," imbuhnya.

Namun, ada risiko di depan mata yaitu konsumsi yang diprediksi masih lemah tahun depan. Penyebab turunnya daya beli masyarakat tersebut adalah tidak dinaikkannya Upah Minimum Provinsi (UMP) di mayoritas provinsi di Indonesia, mengingat adanya faktor COVID-19 yang masih melanda terutama dari sisi pengusaha.

(fdl/fdl)