Simak! Ini Saham-saham yang Diramal Cuan Sampai Tahun Depan

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 13 Nov 2020 13:07 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dibuka negatif turun 15 poin (0,29%) ke posisi 5.442. Namun IHSG diproyeksi menguat ke depan seiring dengan adanya pemulihan ekonomi karena pandemi virus Corona (COVID-19).

Ada beberapa rekomendasi saham yang dinilai akan menguntungkan ke depan, salah satunya yakni sektor properti karena adanya kehadiran Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja.

"Untuk sektor yang positif kita melihat properti adalah salah satu sektor yang positif karena ada dampak dari Omnibus Law yang memperbolehkan orang untuk memiliki apartemen dan kita melihat bahwa walaupun PSBB masih berlanjut, tapi penjualan tren marketing sales dari properti di company itu trennya recover," kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya dalam media gathering yang dilakukan secara virtual, Jumat (13/11/2020).

Kemudian di sektor makanan seperti Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga diprediksi akan bagus ke depannya. Pasalnya, salah satu produksinya mie instan mengalami peningkatan penjualan selama pandemi COVID-19.

"Mengenai ICBP sama INDF mungkin gaji tahun depan consumer kurang bagus, tapi kita lihat ICBP bisnisnya adalah instant noodles. satu hal yg menarik untuk instant noodles itu trennya yang saya lihat pada saat ekonomi susah bukannya turun volumenya, tapi volume instant noodles cenderung naik. INDF itu ada juga dampak positif dari ICBP dan INDF sangat positif juga karena di bawah INDF ada CPO itu akan membantu push untuk ICBP dan INDF," ucapnya.

Kemudian untuk tahun depan, saham-saham di sektor komoditas dinilai punya prospek yang cukup cerah. Hal itu seiring dengan mulai pulihnya ekonomi China dan proyeksi melemahnya dolar Amerika Serikat (AS).

"Sektor komoditas itu adalah yang menarik tahun depan karena ekonomi China sudah recover. Kebetulan China adalah negara konsumen komoditas terbesar di dunia dan digabungkan dengan pelemahan USD dimana biasanya ada hubungan terbalik antara harga komoditas dengan mata uang USD, itu harusnya membuat harga komoditas cenderung bagus," imbuhnya.

(fdl/fdl)